PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pantai Teluk di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, kembali dipenuhi sampah limbah rumah tangga.
Sampah tersebut diklaim merupakan sampah yang terbawa banjir saat Sungai Cipunten Agung meluap dan banjir rob pada awal Desember 2024.
Tumpukan sampah saat ini menjadi lebih parah karena tidak hanya di satu titik di Pantai Teluk, tetapi juga di Pantai Batako yang menjadi pusat wisata kuliner dan Tempat Pendaratan Ikan Higienis Labuan.
Bahkan, sampah yang didominasi sampah plastik sudah menutupi akses jalan wargal.
Penanganan sampah di Pantai Teluk ini sudah menjadi perhatian serius dari Pemkab Pandeglang dan Pemprov Banten. Serta, BUMN, BUMD, TNI, Polri, pelajar, dan relawan yang pernah bahu- membahu membersihkan sampah di sepanjang Pantai Teluk.
Ketua Barisan Relawan Desa (Barade), Imam Satori, membenarkan jika Pantai Teluk sudah memprihatinkan.
“Lebih parah dari sebelumnya viral. Kondisi ini terjadi pasca bencana banjir luapan Sungai Cipunten Agung dan banjir Rob,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa, 17 Desember 2024.
Imam menerangkan, persoalan sampah di Pantai Teluk ini akan terus dan terus terjadi setiap tahun.
“Ketika memang kondisi alam tidak bersahabat, yakni banjir luapan sungai dan banjir rob, maka Pantai Teluk yang tadinya sudah rapi dan bersih kembali kotor oleh sampah,” katanya.
Imam menerangkan, ketika orang melihat kondisi Pantai Desa Teluk ini dipenuhi sampah, akan beranggapan warga setempat yang buang sampah sembarangan.
Padahal, katanya, penyebabnya ialah sampah terbawa aliran sungai dan laut yang masuk ke Teluk Labuan.
“Solusi jangka pendek tentunya perlu kembali aksi bersama untuk bergotong-royong membersihkan sampah. Terus kedua, tentunya harus ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan Pemprov Banten,” katanya.
Pemerintah Pusat dan Pemprov Banten, ujarnya, perlu turun tangan karena bukan hanya untuk mengangkut sampah, tetapi melaksanakan pembangunan fisiknya.
“Pemerintah perlu membangun breakwater atau pemecah ombak atau gelombang. Kurang lebih dari tepi pantai 100-300 meter menjulur ke tengah laut kemudian dibuat setengah lingkaran melindungi pesisir Pantai Teluk,” katanya.
Imam yakin, breakwater bisa mencegah sampah bertumpuk di pesisir pantai sepanjang Desa Teluk. Berbeda dengan sekarang ini, kondisi muara berada di cekungan, sehingga ketika sampah masuk sulit ke luar lagi.
“Hingga akhirnya bertumpuk di pesisir. Bukan lagi pasir tapi menjadi tumpukan sampah,” katanya.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang, Winarno, mengatakan, tumpukan sampah di Pantai Teluk merupakan kejadian berulang.
“Manakala musim angin barat, sampah-sampah yang terbawa ombak itu mendarat di Teluk, dan itu berlangsung tiap tahun. Kami, bersama tim armada sudah mulai melakukan pengangkutan per tanggal 5 Desember 2024,” katanya.
Proses pengangkutan sampah dilakukan secara rutin, tiga kali dalam seminggu.
DLH Pandeglang juga melakukan pengangkutan sampah di Desa Teluk dan melayani pengangkutan sampah wajib retribusi.
“Khususnya yang ada di Desa Teluk dan Pantai Batako,” katanya.
Kemudian, khusus sampah yang berada di bak kontainer diangkut dua hari sekali. Setiap satu bak atau kontainer sekitar lima ton isinya.
“Khusus Desa Teluk, kami sudah bekerja sejak tanggal 5 Desember,” katanya.
Editor: Agus Priwandono












