TANGERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Koordinator Aliansi Mahasiswa Tangerang (AMT) Ahmad Saepul Bahri menyayangkan pelantikan DPD KNPI Kabupaten Tangerang menghabiskan anggaran yang sangat fantastis.
Menurut dia, anggaran itu bisa saja dialokasikan untuk program kerja yang bisa berdampak bagi masyarakat kecil yang ada di Kabupaten Tangerang.
Dimana kata Saepul, saat ini situasi masyarakat Kabupaten Tangerang sedang berada dalam kesulitan. PHK yang merajalela, petani yang banyak gagal panen akibat irigasi yang terbengkalai, nelayan yang tidak bisa berlayar akibat laut yang dipagar, harga bahan pokok yang tidak terkendali, dan masih banyak persoalan lainnya.
“Menurut saya, KNPI mestinya selalu menjadi garda terdepan dalam menyuarakan isu-isu kerakyatan,” ujar Saepul, Senin 27 Januari 2025 melalui telepon whatsapp.
Dikatakan Saepul, perlu diketahui bahwa belum lama ini gedung DPD KNPI Kabupaten Tangerang baru direnovasi dengan menghabiskan anggaran kurang lebih 1,8 Miliar, yang mana tujuannya supaya gedung tersebut layak untuk dipakai kegiatan-kegiatan kepemudaan.
“Lah, itu kan anggaran dari pemda, terus pemda dari mana? yah pasti dari rakyat. Kalau KNPI lebih memilih hotel mewah untuk kegiatan seremonial nya, ngapain direnovasi gedungnya. Hanya buang-buang anggaran rakyat saja,” cetusnya.
Selain itu kata Saepul, dirinya melihat pengurus DPD KNPI Kabupaten Tangerang hari ini gagap dalam memahami sejarah, dan perlu belajar lagi mengenai esensi dari kepemudaan. Dan jika hal ini terus dilakukan KNPI, maka dirinya menduga KNPI Kabupaten Tangerang bisa menjadi wadah pemuda yang eksklusif dan berpotensi menyimpang dari cita-cita luhur KNPI.
“Saya berharap Kedepannya DPD KNPI Kabupaten Tangerang harus lebih peka terhadap isu-isu sosial. Misalnya, ikut mengawal beberapa masyarakat pantura yang haknya termarjinalkan akibat pembangunan PIK 2. Bukan malah mengawal pemilihan pejabat tertentu. Sebab, KNPI adalah wadah pemuda untuk terlibat dalam mengawal persoalan bangsa bukan malah menjadi cukong bagi para penguasa,” tegas Saepul.
Reporter: Mulyadi
Editor: Agung S Pambudi











