Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi. MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
Bulan Ramadan adalah bulan penuh pengampunan. Mari manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak doa, istighfar, dan amal kebaikan. Semoga Ramadan ini membawa kedamaian, keberkahan, dan rahmat bagi kita semua.
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadan menjadikan bulan ini sebagai bulan yang istimewa. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca dan mengkaji Al-Qur’an agar dapat memahami serta mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keutamaan Ramadan sebagai bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan. Allah SWT memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal ibadah tanpa gangguan dari setan. Karena pintu-pintu surga dibuka, setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, keutamaan bulan Ramadan dapat dimanfaatkan dengan memperbanyak amal saleh seperti shalat, sedekah, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an.
Sebaliknya, pintu neraka yang ditutup menjadi tanda bahwa Allah SWT memberikan kesempatan besar bagi hamba-Nya untuk bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar. Dengan memahami Keutamaan Bulan Ramadhan, umat Islam dapat memanfaatkan bulan ini untuk meningkatkan keimanan dan memperbaiki diri. Bulan Ramadhan pun tercermin dalam pahala puasa yang sangat besar. Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِه
“Setiap amal kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa di bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah. Keutamaan Bulan Ramadhan terlihat dalam bagaimana puasa dapat meningkatkan ketakwaan seorang hamba, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Pengendali Hawa Nafsu
Setelah selesai melaksanakan tugas yang berat yaitu ibadah puasa Ramadan. Tugas berat itu bukan karena kita tidak makan, minum dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, tapi karena kita telah menahan hawa nafsu baik pikiran maupun yang bersemayam di hati. Bersyukurlah karena kita dapat melaksanakan ibadah puasa itu dengan baik selama satu bulan penuh dan kita sekarang telah kembali menjadi fitrah. Pasca Ramadan bukan berarti kita bebas dari pengendalian hawa nafsu, justeru kita diuji sejauh mana kualitas kita di mata Tuhan. Setelah melalui ujian sebulan penuh di bulan penuh berkah, kita setidaknya memiliki beberapa “tugas” yang telah menanti.
Pertama, kita harus menjaga serta meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dalam surat AI-Baqaroh ayat 21 Allah berfirman, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu, dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Ayat ini bisa kita jadikan semacam alarm, pengingat bahwa kita ada di dunia ini ada yang menciptakan, melindungi dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya.
Kedua, kita harus memelihara persaudaraan (ukhuwwah). Setelah kita saling maaf memaafkan (melakukan halal bi halal) kita harus pelihara ukuwah. Ada tiga ukhuwah yang harus kita jaga, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa-sesama orang Indonesia), dan ukhuwah basyariyah/insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia). Jika tiga ukhuwah ini sudah membekas di dalam diri seorang pasca ramadhan, maka kita menjadi hamba Allah yang bersaudara, tidak saling menganiaya, tidak saling mengecewakan, tidak saling menghina, tidak saling meneror dan tidak saling membunuh.
Ketiga, tugas yang ketiga pasca Ramadan adalah meningkatkan ibadah dan amal shaleh.Ibadah dan amal saleh harus dilakukan secara terus menerus (langgeng) dilakukan secara Mudawamah. Penjabaran dari Ibadah dan amal saleh tentu sangat luas dan beragam. Ibadah kepada Sang Pencipta tentu banyak cara dan bentuknya, dari mulai Shalat, haji dan lain sebagainya.
Bulan Ramadan yang paling dinanti adalah malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3-5:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ٥
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (1) Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (2) Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar (3)”.
Lailatul Qadar adalah malam penuh keberkahan di mana Allah SWT mengampuni dosa-dosa hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Keutamaan Bulan Ramadhan semakin besar dengan adanya malam ini, sehingga umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dengan memahami Keutamaan Bulan Ramadhan, umat Islam dapat lebih serius dalam memanfaatkan bulan ini sebagai momentum untuk kembali kepada Allah SWT.
Sebagai bulan yang penuh rahmat, keutamaan bulan Ramadan tidak hanya terletak pada kewajiban berpuasa, tetapi juga pada banyaknya peluang untuk meraih pahala, mendapatkan ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Memahami Keutamaan Bulan Ramadhan akan membantu umat Islam untuk lebih maksimal dalam menjalankan ibadah dan memanfaatkan setiap momen dalam bulan yang suci ini. Semoga kita semua dapat meraih berkah dan ampunan di bulan Ramadan serta menjadi hamba yang lebih baik setelahnya.
Puasa Ramadan mempunyai peran sebagai pengontrol kestabilan emosi. Kestabilan emosi merupakan keadaan emosi seseorang yang diperlihatkan dengan sikap yang sesuai harapan sosial, tidak berlebih-lebihan dalam mengekspresikan emosi serta bisa menyeimbangkan antara kebutuhan fisik dan psikis.
Di penghujung Ramadan. Tentu umat Islam yang beriman akan sedih meninggalkan Ramadan karena bulan suci itu paling mulia dibanding 11 bulan lain karena banyak terdapat rahmat Allah, ampunan Allah, dan perlindungan dari neraka. Karenanya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa akhir Ramadan yang indah.

Penulis Adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.
Editor : Aas Arbi











