SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Seluas 177 hektare lahan pertanian di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang sulit ditanami padi karena selalu terendam oleh banjir akibat luapan sungai ketika memasuki musim hujan.
Luapan air tersebut berasal dari luapan dari sungai Ciwaka dan Sungai Kali Mati yang mengalami pendangkalan serta dipenuhi gulma sehingga mengakibatkan aliran air tak lancar dan meluap ke sawah warga. Selain itu air juga sangat sulit surut karena sistem pembuangan air yang kurang baik.
Penyuluh pertanian BPP Pontang Hari Rismayadi mengatakan, meskipun cukup banyak sawah yang sering terendam banjir, namun jumlahnya mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini karena adanya normalisasi yang dilakukan DKPP di sungai Ciwaka.
“Kalau sebelum normalisasi angkanya di atas 300 hektar yang sulit ditanami ketika musim hujan dan ketika sudah ada normalisasi, lumayan ada penurunan. Kemarin yang terdampak cuman 177,” katanya Sabtu 8 Maret 2025.
Ia mengatakan, dari total jumlah tersebut, ada sekitar 50 hektare lahan pertanian di masa tanam pertama yang mengalami puso akibat lahan pertanian yang selalu terendam banjir. “dan yang fuso turun drastis sekitar 50 hektar,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan, lahan mengalami puso tersebut milik 17 petani. “Yang puso itu sekitar 17 petani dan kita ajukan bantuan benih ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk seluas 28 hektar. Di beberapa desa memang sudah ada yang surut, tapi petani belum berani tanam karena merasa sudah tertinggal dengan yang lain,” paparnya.
Ia menjelaskan, sawah-sawah yang terendam banjir berada lokasi yang tepat berada di bantaran sungai Ciwaka dan kali mati. Akibat kondisi tersebut, para petani belum melakukan penanaman selama dua bulan lebih.
“Yang sering terjadi banjir itu di daerah Kaserangan, Kelapian, Pulo Kencana, di bantaran sungai Ciwaka. Itu terendamnya lama jadi sekali mau nanam para petani harus nunggu surut dulu,” ujarnya.
Hari menuturkan, faktor yang menyebabkan sawah lahan tersebut selalu digenangi air dikarenakan kondisi sungai Ciwaka dan Kalimati yang mengalami pendangkalan serta dipenuhi oleh gulma.
“Faktor yang membuat air sulit surut itu karena pembuangannya tidak bisa maksimal, jadi di Kali Mati dan Sungai Ciwaka itu kan penuh penuh eceng gondok jadi aliran airnya itu lambat dan mengalirnya ke sawah,” jelasnya.
Ia mengaku, pihaknya masih kesulitan menangani sawah-sawah yang sering terendam banjir karena membuat tanaman padi yang ditanam mati. “Kendala kita ada di sungainya banyak gulma, jadi aliran dari hulu ke hilir tidak lancar. Tapi Alhamdulillahnya produksi kita masih tergolong bagus dan potensi panennya ada di 87 ton per hektare,” tuturnya.
Editor: Bayu Mulyana












