RADARBANTEN.CO.ID,- Tingginya jumlah penonton film bergenre horor di Indonesia menyisakan pertanyaan yang lebih kurang seperti ini, “kenapa orang suka nonton film horor walau tahu itu menakutkan?” Apakah orang Indonesia bukan tipe penakut, dan banyak pertanyaan lainnya.
Sebuah jurnal dari Harvard Business Review yang berjudul The Psychology Behind Why We Love (or Hate) Horror, ditulis oleh Haiyang Yang dan Kuangjie Zhang menyimpulkan bahwa salah satu alasan kita mengkonsumi film horor adalah untuk merasakan rangsangan. Paparan terhadap tindakan yang menakutkan atau bahjkan antisipasi terhadap tindakan tersebut, dapat menstimulasi kita, baik secara mental maupun fisik, dengan cara yang berlawanan : secara negatif (dalam bentuk ketakutan atau kecemasan) atau secara positif (dalam bentuk kegembiraan menonton video horor secara bersama).
Kedua jenis rangsangan tersebut, dengan kenikmatan terbesar dialami pada saat yang paling menakutkan. Biokimia di dalam tubuh kita juga berubah saat kita mengkonsumsi film horor. Ketakutan dapat memicu pelepasan adrenalin, yang mengakibatkan sensasi yang meningkat dan energi yang melonjak.
Dalam jurnal tersebut juga dijelaskan bahwa dalam menonton film horor kita harus memiliki ‘kerangka pelindung’ psikologis. Tiga hal yang menjelaskan kerangka pelindung psikologis adalah : Pertama adalah bingkai keamanan. Menonton film atau acara horor berarti kita harus tahu pasti bahwa kita aman, dan bahwa entitas jahat itu jauh dan tidak dapat menyakiti kita.
Kategori kedua dari bingkai perlindungan melibatkan rasa keterpisahan. Kita perlu diingatkan bahwa horor yang kita lihat tidaklah nyata—itu hanyalah akting, efek khusus, dan arahan seni yang hebat. Terakhir, bingkai perlindungan melibatkan rasa kendali dan keyakinan kita dalam mengelola bahaya yang kita hadapi. Kita masih bisa mendapatkan sensasi dari ketakutan yang hebat jika kita merasa yakin dalam mengendalikan dan mengatasi bahaya yang dirasakan.
Jurnal tersebut juga menyebutkan secara teoritis orang seperti apa yang menyukai film horor. Antara lain adalah orang dengan karakter bersidat pencari sensasi, lalu berdasarkan survei terkuak bahwa individu yang lebih muda cenderung lebih tertarik pada genre yang menakutkan ini. Pria, juga lebih cenderung menjadi penggemar horor dari wanita.
Penelitian mereka juga menganalisa data penjualan tiket film dari 82 negara. Mereka menemukan bahwa preferensi untuk mengonsumsi film horor mungkin berbeda di berbagai tahap perkembangan ekonomi. Mereka menemukan bahwa individu dari negara-negara dengan PDB per kapita yang lebih tinggi mengsomsi film horor dalam jumlah yang lebih besar.
Editor: Bayu Mulyana











