KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tragedi maut yang menimpa seorang santri Pondok Pesantren Al-Hasaniyah di Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, memicu gelombang protes dari kalangan ulama dan tokoh masyarakat. Mereka mendesak pengembang proyek Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 untuk segera membangun jalur khusus kendaraan proyek, guna mencegah jatuhnya korban jiwa berikutnya.
Santri bernama Ilyas Nashrul Haq meninggal dunia setelah ditabrak truk pengangkut tanah yang tergabung dalam aktivitas pengurukan proyek PIK 2. Insiden tersebut terjadi di jalan umum yang setiap hari dilalui warga sekitar.
Pascakejadian, doa dan zikir akbar digelar pada Jumat, 9 Mei 2025, di Ponpes Al-Hasaniyah. Ratusan santri, ulama, dan masyarakat hadir untuk mendoakan almarhum sekaligus menyuarakan keresahan mereka terhadap dampak proyek tersebut.
Kiai Mansyur Hasan, tokoh ulama Tangerang Utara sekaligus Ketua Yayasan Perguruan Islam Al-Hasaniyah, menyebut kematian Ilyas sebagai peringatan serius atas abainya keselamatan warga.
“Jalan yang sebelumnya diperbaiki dengan harapan dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan, kini sudah kembali rusak dan menambah beban bagi warga yang melintas,” ujarnya, Minggu, 11 Mei 2025.
Ia menyoroti rusaknya infrastruktur akibat kendaraan berat proyek yang melebihi kapasitas, padahal jalan tersebut dibangun dengan dana APBD untuk kepentingan umum. Karena itu, pihaknya mendesak pengembang membangun jalur sendiri menuju lokasi proyek.
“Jadi, pihak pengembang diminta untuk segera membangun jalur khusus agar kendaraan proyek tidak melewati jalan umum. PIK sebaiknya membuat jalur sendiri, misalnya dari akses tol langsung ke lokasi proyek pengurukan,” tegasnya.
Forum ulama dan tokoh masyarakat Tangerang Utara turut mendukung tuntutan tersebut dan menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap operasional proyek besar yang melibatkan kendaraan berat.
“Pemerintah dan kepolisian harus melakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran yang mengancam keselamatan masyarakat,” lanjut Kiai Mansyur.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mengedepankan dialog, namun siap menempuh jalur hukum bila tidak ada respons konkret dari pengembang.
“Meskipun kami siap mengambil langkah hukum jika tuntutan ini tidak dipenuhi,” terangnya.
Kiai Mansyur menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan untuk menolak pembangunan, melainkan menolak pembangunan yang mengabaikan nyawa rakyat.
“Kami bukan menolak pembangunan, tetapi kami menolak pembangunan yang mengorbankan nyawa rakyat. Ini adalah seruan untuk keselamatan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Jika tuntutan tidak digubris, ia mengingatkan bahwa gelombang aksi massa tidak dapat dihindari.
“Karena percuma jika kami hanya diminta menenangkan massa tanpa ada upaya perbaikan. Korban pun akan terus berjatuhan,” pungkasnya.
Editor: Merwanda











