SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Masyarakat di Kabupaten Serang khususnya yang tinggal di wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi bencana, khususnya di dekat pantai untuk menjaga rambu-rambu bencana yang sudah dipasang.
Pasalnya, keberadaan rambu bencana terutama di wilayah-wilayah yang rawan terjadi bencana khususnya di pesisir pantai di Kabupaten Serang sangat penting karena berfungsi sebagai panduan masyarakat melakukan evakuasi ketika terjadi bencana alam.
Sayangnya, keberadaan rambu bencana di Kabupaten Serang justru cenderung tidak terawat. Bahkan ada beberapa rambu bencana yang rusak bahkan hilang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Serang, Hotman Siregar mengatakan, telah memasang sebanyak 326 rambu bencana di Kabupaten Serang.
“Jumlah rambu terpasang tahun 2023 150, tahun 2024/2025 176 rambu,” katanya, Kamis 29 Mei 2025.
Ia mengatakan, di Desa Anyar ada sebanyak 63, Desa Karang Suraga sebanyak 54, Desa Bulakan 55, Desa Argawana 54, Desa Sumuranjan 50 dan Desa Salira 50. Rambu dipasang di jalur evakuasi yang dekat dengan pantai.
Namun demikian, belakangan tidak sedikit rambu yang telah terpasang itu kemudian dirusak oleh oknum warga yang tidak bertanggungjawab. Mereka menganggap adanya rambu justru mengurangi kunjungan wisata.
“Kadang ada warga juga komplain, katanya mengurangi kunjungan. Karena ada rambu parkiran (wisata) jadi kosong berdampak ke ekonomi,” ucapnya.
Perusakan rambu yang dilakukan disebabkan karena pola pikir masyarakat yang masih belum sadar pentingnya rambu tersebut.
Padahal di daerah luar seperti di Bali, banyak rambu terpasang namun tetap bagus. Keberadaan rambu di Bali tersebut justru membuat turis merasa nyaman.
“Ketika ada rambu jadi merasa sangat nyaman, beda dengan kita. Kita mayoritas wisatawan domestik, Pandeglang juga sama (banyak yang dirusak), merubah pola pikir (masyarakat) perlu ada formula baru,” tuturnya.
Ia mengatakan, sinergitas antar OPD penting untuk penyebaran informasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga rambu bencana. Pihaknya meminta Diskominfosatik melakukan sosialisasi atau menggunakan influencer.
Ia mengaku, dalam pemasangan rambu tersebut pihaknya kerap melibatkan perwakilan masyarakat, dan diketahui oleh pihak desa. Sebab rambu itu untuk kepentingan masyarakat.
“Hanya terbentur sosialisasi masif karena budgetnya, makanya ditengah keterbatasan harus dipenuhi,” ucapnya.
Ia mengatakan saat ini pihaknya berupaya tetap melakukan pemasangan rambu termasuk mengganti rambu yang rusak dan hilang.
Diharapkan rambu tersebut tidak dirusak. Rambu-rambu yang dipasang diantaranya ada rambu jalur evakuasi, titik kumpul, dan peringatan bahaya.
“Rambu itu untuk papan informasi ketika ada kedaruratan kebencanaan bukan untuk menakuti warga bukan untuk mengurangi mata pencaharian warga justru untuk keselamatan,” katanya.
Sampai saat ini kata dia rambu yang telah dirusak ada sekitar enam. Rambu yang rusak tersebut dipasang tahun ini, bahkan sudah ada yang hilang.
“Tiangnya berdiri papan informasi nya hilang. Karena tiangnya dicor, tapi ada juga yang dicabut,” ucapnya.
Menurut dia rambu bencana hilang bukan hanya di Kabupaten Serang tapi juga di luar Banten. Untuk mencegah hal itu kembali terjadi, edukasi terhadap masyarakat perlu terus dilakukan.
“Kaya di Puloampel diprotes warga katanya menghalangi jalan, padahal kita sudah perhitungkan ketika pasang rambu jalur evakuasi. Ada juga warga komplain jangan di depan rumah saya kaya Puloampel. Kalau hotel masih sedikit yang pasang rambu, hanya hotel yang punya nama (besar) baru melaksanakan, kalah losmen atau home stay belum. Kalau kita keterbatasan anggaran,” katanya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











