RADARBANTEN.CO.ID – Mereka bukan selebritas layar kaca. Bukan juga band yang tiap minggu nongol di TV. Tapi siapa sangka, trio bernama Perunggu ini diam-diam mencuri perhatian skena musik Indonesia—bukan karena sensasi, melainkan karena kualitas.
Tiga pria “pulang kantor” ini menyulap keresahan jadi karya: lagu-lagu dengan lirik dalam dan aransemen matang. Musik mereka jadi tempat pelarian sekaligus cermin bagi pendengar yang sedang mencari makna. Pantas jika band ini digandrungi para pendengar yang ingin “merasakan”, bukan sekadar “mendengar”.
1. Band Pulang Kantor yang Konsisten Berkarya
Anggotanya—Adam, Ildo, dan Maul—masih menjalani profesi non-musik di luar band. Tapi jangan salah. Perunggu tetap konsisten melahirkan karya berkualitas dan tampil panggung secara reguler. Gaya mereka sederhana, tapi punya daya tarik yang kuat. Dalam dan jujur.
2. Lirik Bahasa Indonesia yang Ngena dan Penuh Makna
Mereka menulis lirik dalam bahasa Indonesia, tapi tidak asal tulis. Ada emosi, refleksi, bahkan puisi di dalamnya. Seperti kutipan dari lagu “Kalibata, 2012”:
“Kurasa batinku takkan pernah siap terima salam pamitmu.”
Kalimat sederhana yang bisa mewakili ratusan kisah kehilangan.
3. Fanbase Loyal Bernama “Merunggu”
Uniknya, para penggemar Perunggu menyebut diri mereka “Merunggu”. Ini bukan cuma nama keren, tapi simbol dari ikatan antara band dan fans-nya. Komunitas ini tumbuh organik, seperti musik mereka: tulus dan solid.
4. Penampilan Panggung yang Hangat dan Seru
Kalau kamu pernah datang ke gig Perunggu, kamu tahu satu hal: gak ada jarak. Penampilan mereka membumi. Ada suasana pulang kerja, ngopi, lalu meluapkan emosi bareng-bareng. Tak jarang, penonton ikut bernyanyi atau bahkan stage dive.
5. Musik dan Aransemen yang Matang
Dengarkan lagu mereka seperti “Canggih” atau “33x”, dan kamu akan merasakan kualitas. Musiknya bukan cuma enak didengar, tapi juga punya struktur yang rapi dan ekspresif. Tak heran jika album debut mereka, Memorandum, mendapat banyak pujian dari media musik independen.
6. Diakui di Skena Musik Indie
Media seperti DCDC sempat menyebut Perunggu sebagai “Rocka Rookie”—pengakuan atas kualitas mereka meski belum lama muncul. Album mereka disebut sebagai “musik yang ramah untuk telinga dan pikiran.” Pujian itu bukan tanpa alasan.
Kesimpulan
Perunggu adalah contoh band yang membuktikan bahwa musik bagus tidak harus datang dari popularitas atau panggung besar. Musik mereka menyentuh sisi personal, disampaikan lewat narasi jujur dan aransemen matang. Cocok buat kamu yang sedang mencari musik alternatif yang lebih dari sekadar tren.
Bagi para pencari makna, Perunggu bisa jadi teman perjalanan. Bukan untuk didengar sambil lalu, tapi untuk menemani saat berpikir, merasa, dan pulang kerja.
Editor : Merwanda










