SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Nilai ekspor Provinsi Banten terus menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat, nilai ekspor periode Januari–Juli 2025 mencapai US$ 7.489,00 juta atau naik 8,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Peningkatan ini sejalan dengan naiknya ekspor nonmigas yang mencapai US$ 7.431,49 juta (naik 8,07 persen) serta ekspor migas senilai US$ 57,51 juta (naik signifikan 64,90 persen).
Khusus pada Juli 2025, nilai ekspor Banten tercatat US$ 1.155,22 juta, naik 17,93 persen dibanding Juli 2024.
Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas menyumbang US$ 1.136,25 juta, atau naik 16,61 persen.
BPS Banten juga mencatat, dari sisi komoditas, peningkatan terbesar terjadi pada ekspor kakao/cokelat (HS 18) yang melonjak hingga 256,58 persen menjadi US$ 633,18 juta.
Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan terbesar adalah alas kaki (HS 64), turun 45,78 persen menjadi US$ 582,32 juta.
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Banten dengan nilai US$ 1.115,47 juta. Disusul Tiongkok US$ 873,98 juta dan India US$ 680,39 juta.
Sementara, ekspor Banten ke kawasan ASEAN dan Uni Eropa, masing-masing tercatat US$ 1.769,15 juta dan US$ 964,26 juta.
Menurut sektor, ekspor Banten masih didominasi industri pengolahan yang mencapai US$ 7.246,51 juta, atau naik 7,33 persen.
Adapun ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 5,95 persen. Serta, ekspor hasil pertambangan dan lainnya melonjak hingga 896,40 persen.
Dari jalur pengiriman, pelabuhan muat terbesar adalah Tanjung Priok dengan kontribusi mencapai 82,26 persen atau senilai US$ 6.160,70 juta, diikuti Pelabuhan Cigading sebesar US$ 444,51 juta, dan Tanjung Leneng sebesar US$ 365,09 juta.
Editor: Agus Priwandono











