SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Sebanyak 561 hektare lahan pertanian di Kabupaten Serang terendam banjir akibat intensitas hujan tinggi yang mengguyur di wilayah Kabupaten Serang.
Sawah tersebut tersebar di 9 Kecamatan di Kabupaten Serang yakni Kecamata Kramatwatu, Padarincang, Tunjung Teja, Mancak, Tirtayasa, Cinangka, Pontang, Ciruas dan Kecamatan Anyar dengan umur tanam yang variatif.
Diketahui aejumlah lahan pertanian di Labupaten Sernag telah terendam banjir sejak tanggal 18 Desember 2025 lalu. Kendati demikian, hingga saat ini, belum ada laporan sawah yang mengalami puso.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, Suharjo mengatakan, ada sebanyak 19 Desa beberapa kecamatan yang terdampak akibat banjir. Jumlah tersebht berdasarkan data per tanggal 22 Desember 2025.
Ia mengaku, hingga saat ini belum ada laporan mengenai lahan pertanian yang mengalami puso. “Kalau ada yang puso akan kita ajukan untuk penggantian bibit ke Pemerintah Provinsi,” katanya, Selasa 23 Desember 2025.
Ia mengatakan, untuk para petani yang sudah terdaftar pada Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) mereka akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp6 juta rupiah.
Ia mengaku jika lahan pertanian di Kecamatan Padarincang rata-rata sudah mendekati panen. Ia mengaku, di usia tersebut apabila sampai terendam lebih dari 3 hari maka berpotensi akan mengalami puso.
“Maksimal selama 3 hari, kalau lebih bisa mengalami puso. Kalau sudah tua behitu terencam air bisa rontok,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang petani, Sahlani mengatakan, ada ratusan hektare sawah yang membentang di desa Citasuk yang mayoritasnya berada di Kampung Sukamaju.
Hujan deras yang terjadi di Padarincang akhirnya merendam seluruh lahan pertanian milik warga. “Yang terendam banyak, mungkin sampai 100 hektare lebih. Hampir semua terendam,” katanya lirih.
Ia mengatakan, yang paling menyesakkan dada bagi para petani yang ada di Sukamaju ialah bahwa padi yang sudah mereka urus hampir tiga bulan itu sudah mendekati panen. Bahkan, waktu panen sebenarnya tinggal menghitung hari.
“Lihat kondisi sawah di sana, sudah seperti laut. Padahal posisi sawah sudah mau panen,” ujarnya.
Kini, bayang-bayang gagal panen pun menghantui para petani. Pasalnya, air banjir di wilayah mereka sudah merendam lebih dari tiga hari lamanya. Padalnya, di usia-usia menjelang panen, padi justru tidak bisa tahan lama apabila terendam air.
“Bahkan padi yang bekas panen kita kemair yang disimpan digudang juga ikut terendam. Kini ya padi yang ada pun sudah mulai muncul tunas, baru kemarin kita ambil panen,” ujarnya.
Ia merasa sedih pasalnya sawah yang terendam banjir tersebut tidak dalam perlindungan asuransi. Tentunya segala jenis kerugian harus ditanggungnya sendiri.
“Hasil panen di sini biasanya per hektar sampai 6 ton, kerugian kurang lebih sampe 30 juta lah,” ujarnya.
Ia pun berharap pemerintah bisa turun tangan, selain memberikan bantuan saat banjir, tetapi juga melakukan pemulihan pasca banjir. Khususnya memberikan bantuan khusus untuk para petani sehingga mereka tidak mengalami kerugian lebih banyak lagi.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











