Lukman Hakim. Saya belum lama mengenalnya. Belum sampai dua tahun.
Pertama kali kami bertemu pada Malam Apresiasi Satu Inspirasi yang digelar B-Universe, 25 Juli 2024.
Malam itu saya datang sebagai undangan dari Disway.id. Sementara Lukman Hakim hadir sebagai salah satu penerima penghargaan.
Malam itu, juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Disway.id dan B-Universe untuk pengembangan bisnis media berjaringan. Kami duduk satu meja. Berbincang santai.
Dari obrolan ringan malam itu, komunikasi kemudian terus berlanjut hingga sekarang. Kesan pertama saya sederhana. Lukman bukan tipe orang yang banyak bicara untuk terlihat hebat. Cara bicaranya tenang. Tidak meledak-ledak. Tapi isi pikirannya terasa tertata.

Belakangan saya tahu, perjalanan hidupnya juga tidak datang dari ruang yang nyaman.
Hari ini, Lukman Hakim adalah Direktur dan Corporate Secretary PT Panca Budi Idaman Tbk, perusahaan consumer packaging yang cukup dikenal di pasar modal dengan kode saham PBID. Pasarnya luas. Dari pelaku UMKM makanan dan minuman, pedagang pasar tradisional, hingga distributor ritel skala kecil.
Namun di balik posisi itu, Lukman tidak pernah menutupi cerita masa lalunya. Ia tumbuh di kawasan Pasar Senen. Tinggal bersama orangtua yang mencari nafkah di sana. Kehidupan sederhana yang membuat pendidikan tinggi saat itu terasa seperti sesuatu yang jauh.
Bahkan, orangtuanya sempat ragu ketika Lukman ingin kuliah. Bukan karena tidak mendukung. Tapi karena kondisi ekonomi keluarga memang belum cukup baik.
Berangkat dari situ, perjalanan karirnya perlahan naik. Dari anak Pasar Senen, masuk dunia kerja, lalu meniti karir di bidang keuangan.
Lukman sempat bekerja di perusahaan multifinance sebelum bergabung dengan Panca Budi pada 2006. Karirnya terus bergerak. Dari Finance Manager, Deputy Director, hingga akhirnya dipercaya menjadi direktur sejak 2019.
Latar belakang akademiknya juga kuat. Ia menempuh pendidikan manajemen keuangan dan sistem informasi. Setelah menyelesaikan S1 Manajemen Keuangan, lalu melanjutkan S2 Manajemen Sistem Informasi dan Manajemen Keuangan.
Tidak berhenti di situ, ia juga mengambil sertifikasi Certified Securities Analyst (CSA) dan Certified Risk Professional (CRP). Mungkin karena perjalanan hidupnya tidak mudah, Lukman terlihat sangat percaya pada pentingnya antisipasi.
Kalimat yang paling saya ingat darinya:
“Hope for the better, but prepare for the worst.”
Berharap yang terbaik. Tapi tetap bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Cara berpikir seperti itu sangat terasa ketika ia berbicara tentang manajemen risiko.
Menurut Lukman, risk management bukan sekadar urusan direksi atau divisi tertentu. Tapi budaya yang harus hidup di semua level perusahaan.
“Everybody is risk manager,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Jepang hidup berdampingan dengan risiko gempa bumi. Mereka sadar ancaman selalu ada. Karena itu persiapan menjadi bagian dari budaya hidup.
Prinsip sederhana seperti “sedia payung sebelum hujan”, menurutnya, justru sangat relevan dalam dunia bisnis.
Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata bagaimana risiko bisa berubah menjadi peluang.
Saat banyak sektor terpukul, kebutuhan consumer packaging justru meningkat karena layanan online food delivery tumbuh sangat cepat.
“Pandemi mengajarkan kita melihat risiko sebagai peluang,” ujarnya.
Pandangan Lukman juga menarik ketika berbicara soal Artificial Intelligence (AI). Di tengah euforia teknologi, ia tetap melihat pentingnya sentuhan manusia.
Menurutnya, AI memang membantu mempercepat proses pekerjaan. Tapi hasil akhirnya tetap membutuhkan sentuhan manusia. “AI perlu dukungan sumber daya manusia untuk mereview hasil pekerjaan,” katanya.
Karena pada akhirnya, keputusan-keputusan penting tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Terutama dalam membaca risiko yang kompleks.
Di luar aktivitasnya sebagai direktur perusahaan publik, Lukman juga aktif menjadi pembicara di berbagai kampus. Membawakan materi corporate finance, risk management, ekonomi, bisnis, hingga pasar modal.
Dari beberapa kali perbincangan, saya menangkap satu hal: Lukman tidak sedang bicara soal rasa takut menghadapi risiko. Tapi soal kesiapan menghadapi perubahan.
Sebab dalam dunia yang berubah sangat cepat seperti sekarang, kadang yang paling berbahaya bukan risiko itu sendiri.
Melainkan merasa semuanya akan selalu baik-baik saja. (*)








