PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Karaton Majasari resmi beroperasi di Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Program unggulan Presiden RI Prabowo Subianto ini menargetkan pemenuhan gizi bagi sekitar 3.000 penerima manfaat setiap hari.
Kepala SPPG Karaton Majasari, James Walker, mengatakan dapur MBG tersebut menyasar pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, ibu hamil, serta balita sebagai kelompok prioritas.
“Total sasarannya sekitar 3.000 orang, mulai dari siswa TK, SD, MTs, MA, MI, hingga ibu hamil dan balita,” ujar James, Selasa, 6 Januari 2026.
Ia menjelaskan, sekitar 2.000 penerima manfaat berasal dari kelompok balita. Sementara itu, sisanya merupakan pelajar dan ibu hamil yang membutuhkan asupan gizi seimbang untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan.
Untuk menjamin kualitas dan keamanan makanan, pengelolaan dapur MBG Karaton Majasari mengikuti standar Badan Gizi Nasional (BGN). Pengelola menerapkan sanitasi ketat, penggunaan alat pelindung diri, serta standar operasional prosedur (SOP) yang wajib dipatuhi seluruh petugas dapur.
“Kami menerapkan standar BGN, seperti penggunaan masker dan sarung tangan, kewajiban cuci tangan, serta SOP yang dipasang agar dipatuhi,” jelasnya.
Selain itu, SPPG Karaton Majasari melibatkan tenaga ahli gizi dalam penyusunan menu. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kandungan nutrisi dan gramasi makanan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
“Ada ahli gizi yang mengatur kandungan dan takaran gizi, jadi tidak asal memasak,” tegas James.
Ia juga menambahkan bahwa waktu distribusi makanan dibatasi untuk mencegah risiko keracunan.
“Makanan tidak boleh dikonsumsi lebih dari 4 sampai 6 jam setelah dimasak,” katanya.
Sementara itu, mitra pelaksana dari Yayasan Citra Bakti Banten, Muhamad Nufus, menyampaikan bahwa peluncuran dapur MBG dilakukan setelah seluruh persyaratan administrasi dan kesiapan operasional terpenuhi.
“Setelah semua persyaratan dan kesiapan dapur selesai, barulah launching dilaksanakan,” ujarnya.
Ia berharap program Makan Bergizi Gratis memberi dampak langsung bagi masyarakat sekitar, terutama melalui pemberdayaan warga lokal. Menurutnya, sekitar 75 persen relawan dapur MBG berasal dari lingkungan sekitar Karaton Majasari.
“Sekitar 75 persen relawan berasal dari warga sekitar dapur,” katanya.
Selain tenaga kerja, kebutuhan bahan pangan dapur MBG juga mengutamakan potensi lokal. Pengelola berkomitmen menyerap hasil pertanian dan sumber daya dari wilayah Karaton dan sekitarnya.
“Kami berkomitmen mengakomodasi potensi lokal, baik tenaga maupun bahan pangan,” jelas Nufus.
Dalam pendistribusian makanan, pengelola membatasi jarak layanan maksimal 6 kilometer dari dapur. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga kualitas makanan dan ketepatan waktu distribusi.
“Jarak distribusi tidak lebih dari 6 kilometer agar makanan tetap layak dan tepat waktu,” ujarnya.
Nufus menegaskan seluruh pelaksanaan program MBG di Karaton Majasari berjalan sesuai SOP dan standar BGN.
“Pelaksanaan di lapangan sepenuhnya mengikuti SOP BGN,” pungkasnya.
Dengan beroperasinya dapur SPPG Karaton Majasari, pemerintah berharap kualitas gizi masyarakat Pandeglang, khususnya anak-anak dan ibu hamil, dapat meningkat secara berkelanjutan.
Editor: Aas Arbi











