SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Madrasah Light Competition (MLC) 2026 menghadirkan sejumlah kategori perlombaan yang tidak hanya menguji kemampuan fisik dan seni, tetapi juga kemampuan intelektual dan spiritual siswa madrasah. Salah satu yang menjadi perhatian dalam ajang yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Banten tersebut adalah perlombaan hafalan terjemahan Alquran.
Kepala Kanwil Kemenag Banten, Amrullah mengatakan, kategori tersebut dihadirkan untuk memberikan pengalaman baru bagi siswa madrasah. Peserta tidak hanya dituntut mampu menghafal ayat-ayat Alquran, tetapi juga memahami arti dan makna yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, kemampuan memahami terjemahan Alquran penting agar siswa tidak berhenti pada kemampuan menghafal. Tapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
“Di samping menghafal Alquran, kita ingin anak-anak juga memahami terjemahannya. Harapannya, dengan memahami makna Alquran, mereka bisa mengamalkan dan melaksanakannya dalam kehidupan,” kata Amrullah, Selasa 28 Juli 2026.
Ia menyebut, lomba hafalan terjemahan Alquran menjadi salah satu bentuk inovasi dalam MLC. Sebab, selama ini perlombaan tahfiz Alquran sudah lebih umum ditemukan dalam berbagai ajang kompetisi antar madrasah.
Sementara itu, MLC 2026 secara keseluruhan menghadirkan sekitar 10 cabang perlombaan. Selain bidang keagamaan, terdapat pula kategori olahraga, marawis, pidato dan sejumlah perlombaan lain yang menggabungkan keterampilan fisik, seni dan kemampuan berpikir. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.300 siswa yang merupakan perwakilan madrasah dari delapan kabupaten dan kota se-Provinsi Banten.
Amrullah mengatakan, konsep kompetisi yang memadukan berbagai bidang tersebut sejalan dengan upaya membentuk siswa madrasah yang memiliki kemampuan secara utuh.
Ia berharap para siswa tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual atau kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual, emosional dan sosial. “Harapannya mereka tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan spiritual, emosional dan sosial yang kuat,” ujarnya.
Menurut Amrullah, kompetisi seperti MLC juga dapat menjadi sarana untuk melihat potensi siswa yang selama ini belum banyak diketahui. Siswa yang memiliki kemampuan menonjol di bidang tertentu dapat diarahkan untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.
Ia berharap MLC dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda tahunan. Dengan demikian, inovasi dalam kompetisi madrasah dapat terus dikembangkan sekaligus menjadi wadah untuk membangun generasi yang unggul secara akademik, berkarakter dan memiliki pemahaman agama yang baik.
Editor : Rostinah










