LEBAK,RADARBANTEN.CO.ID– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mencatat kerugian akibat bencana hidrometeorologi sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026 mencapai Rp23,7 miliar.
Kerugian tersebut terjadi akibat rangkaian bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak.
Kepala BPBD Lebak, Sukanta, mengatakan nilai kerugian tersebut tergolong signifikan karena terjadi hanya dalam kurun waktu sekitar satu bulan.
Selain kerugian materiil, bencana hidrometeorologi juga menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
“Kerugian infrastruktur akibat banjir dan longsor mencapai Rp23 miliar. Sementara kerusakan rumah berdasarkan estimasi sebesar Rp700 juta,” kata Sukanta saat dihubungi, pada Kamis 9 Januari 2026.
Ia menjelaskan, selama periode tersebut tercatat sedikitnya 530 rumah warga terdampak bencana banjir dan longsor. Dampak bencana dirasakan cukup luas oleh masyarakat di berbagai wilayah.
BPBD Lebak juga mencatat kerusakan infrastruktur terjadi di 29 titik. Adapun bencana hidrometeorologi tersebut berdampak langsung terhadap 22 desa yang tersebar di Kabupaten Lebak.
Dari total rumah terdampak, sebanyak 155 unit dilaporkan mengalami kerusakan dengan kategori rusak berat, rusak sedang, hingga rusak ringan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mengungsi sementara.
Menurut Sukanta, bencana hidrometeorologi di Lebak dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi dalam waktu lama, ditambah dengan faktor aktivitas manusia.
“Dampak yang ditimbulkan cukup besar pada bencana akhir tahun 2025 kemarin,” imbuhnya.
Dalam upaya penanganan banjir dan longsor, BPBD Kabupaten Lebak terus melakukan koordinasi lintas sektor. Salah satunya dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk mempercepat perbaikan jalan dan infrastruktur vital yang rusak.
“Kami selalu berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan kebencanaan itu,” ujar Sukanta.
Selain itu, BPBD Lebak juga berkoordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk mengantisipasi potensi banjir susulan, termasuk melalui pembangunan saluran pembuangan air di bawah badan jalan.
Sukanta menambahkan, berdasarkan informasi BMKG, potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2026.
“Kami minta warga yang tinggal di lokasi rawan bencana alam, bila cuaca ekstrem yang ditandai hujan sangat lebat disertai angin kencang, sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman,” tandasnya.
Keyword: Bencana Lebak, Kerugian Banjir Lebak, BPBD Lebak, Banjir dan Longsor
Reporter: Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











