PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kolelet Picung 001, Desa Kolelet, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang berkomitmen menjaga kualitas makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dapur SPPG Kolelet sebagai mitra BGN (Badan Gizi Nasional) berada dalam naungan Yayasan Peduli Bangsa.
SPPG Kolelet mengedepankan menjaga kualitas makanan dengan mengutamakan mutu bahan baku sebagai prioritas utama. Setiap bahan yang digunakan dalam proses pengolahan dipastikan melalui seleksi ketat guna menjamin keamanan, kebersihan, serta nilai gizinya.
Kepala SPPG Yayasan Peduli Bangsa, Fitri Hermawati, menyatakan dukungan penuh pada keputusan tim ahli untuk menjaga integritas program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Pandeglang.
“Kami memiliki tanggung jawab atas asupan gizi anak-anak. Untuk itu hasil olahan makanan harus berdasarkan penilaian ahli gizi,” katanya, Senin, 2 Februari 2026.
Ketika, ahli gizi menyatakan hasil olahan sudah ok barulah bisa menyalurkannya. Akan tetapi bila belum maka tidak bisa mengambil resiko.
“Demi keamanan konsumsi siswa. Makanya dapur SPPG Kolelet berada di bawah naungan Yayasan Peduli Bangsa mengutamakan mutu bahan baku untuk mendukung program MBG,” katanya.
Lebih lanjut Fitri menyampaikan, permohonan maaf apabila dapur SPPG Kolelet ini belum sepenuhnya melibatkan pengusaha lokal. Pada prinsipnya yayasan tetap membuka ruang bagi pengusaha lokal untuk menjadi mitra.
“Namun memang kualitas bahan baku harus memenuhi standar resmi yang BGN tetapkan,” katanya.
Sehingga, ketika hasil seleksi teknis, produk dari pengusaha desa dinilai belum memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh tim ahli maka tidak bisa menerimanya. Hal itu akan beresiko karena memang setiap dapur ada ahli gizinya.
“Jadi kami bukan tidak melibatkan pengusaha lokal, tapi karena pada prinsipnya Dapur MBG sangat terbuka untuk bersinergi dengan potensi ekonomi lokal,” katanya.
Oleh karena itu, SPPG Kolelet tentunya akan bermitra ketika memang kualitas produk sudah memenuhi standar BGN. Baik itu pengrajin lokal maupun pengusaha lokal.
“Namun prioritas tertinggi dalam program nasional ini adalah kualitas mutlak bahan baku. Yang penilaiannya langsung oleh Ahli Gizi yang memantau aspek higienitas proses, kepadatan tekstur, hingga konsistensi nutrisi pada setiap sampel yang diajukan,” katanya.
Editor Daru











