TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Kelompok Wanita Tani (KWT) Belimbing di Kelurahan Parung Serab, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, menjadi contoh pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari masa sulit pandemi Covid-19.
Dipimpin Ketua KWT Belimbing, Sumarni, kelompok ini kini aktif memproduksi berbagai hasil pertanian dan olahan pangan berbasis hidroponik dan budidaya ikan.
KWT Belimbing terbentuk pada tahun 2020, saat pandemi melanda. Saat itu, banyak ibu rumah tangga, termasuk guru dan pekerja kantoran, harus tinggal di rumah dan kehilangan penghasilan.
Atas inisiatif pihak kelurahan dan RT, dibentuklah kelompok ini sebagai solusi untuk bertahan secara ekonomi.
“Awalnya dari kebutuhan. Ibu-ibu di rumah tidak punya penghasilan, akhirnya kita tanam, kita makan, dan kita jual,” ujar Sumarni, Selasa 31 Maret 2026.
Kelompok ini terdiri dari anggota yang tersebar di RW 03 dengan tujuh RT, masing-masing RT diisi dua hingga tiga orang. Dari awal berjumlah sekitar 30 orang, kini KWT Belimbing tetap solid meski berbasis kegiatan sosial tanpa upah tetap.
Berbagai komoditas dikembangkan, mulai dari sayuran hidroponik seperti pakcoy, selada, kangkung, dan bayam, hingga tanaman organik seperti kembang kol. Selain itu, mereka juga membudidayakan ikan nila dan lele di kolam yang terintegrasi dengan sistem hidroponik.
Tak hanya menjual hasil panen mentah, KWT Belimbing juga mengolah produk menjadi bernilai tambah. Pakcoy diolah menjadi keripik, mie, dan jus. Lidah buaya dijadikan minuman jeli, sementara ikan nila diolah menjadi aneka masakan seperti pesmol dan pecak.
“Sistem penjualan kita masih berdasarkan pesanan. Open order dulu, baru kita produksi,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, setiap anggota memiliki tugas masing-masing, mulai dari penyemaian, perawatan tanaman, penyemprotan hama, hingga pengolahan produk.
Kegiatan perawatan dilakukan rutin pagi dan sore oleh anggota yang telah dijadwalkan. Untuk menjaga kestabilan produksi dan penjualan, panen dilakukan secara bergilir setiap dua minggu.
Hal ini dilakukan agar hasil panen tidak menumpuk dalam satu waktu dan memudahkan pemasaran, yang saat ini masih terbatas pada warga sekitar dan kegiatan bazar.
Dari sisi keuntungan, sistem pembagian dilakukan secara sederhana. Modal produksi dikembalikan terlebih dahulu, sementara keuntungan dibagi dua antara pengelola dan kas kelompok untuk pengembangan usaha, seperti pembelian pupuk dan bibit.
Saat ini, KWT Belimbing telah memiliki tujuh tandon nutrisi hidroponik dan kolam ikan berukuran cukup besar. Lahan seluas sekitar 300 meter persegi yang digunakan merupakan pinjaman dari seorang anggota kepolisian, M. Nur, yang bertugas di Polres Metro Tangerang Kota.
Selain manfaat ekonomi, keberadaan KWT Belimbing juga memberikan dampak sosial yang besar. Anggota menjadi lebih akrab dan solid, bahkan rutin menggelar kegiatan bersama seperti kerja bakti hingga makan bersama di akhir pekan.
“Yang paling terasa itu kebersamaan. Dari yang awalnya tidak saling kenal, sekarang jadi seperti keluarga,” kata Sumarni.
KWT Belimbing juga mendapat dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang, termasuk melalui pelatihan dan lomba antar KWT.
Mereka bahkan pernah meraih juara pertama dan terakhir juara ketiga pada 2024 di kategori administrasi.
Ke depan, KWT Belimbing berharap adanya dukungan lebih lanjut, terutama dalam bentuk etalase produk dan tambahan permodalan. Saat ini, mereka juga tengah berkolaborasi dengan Universitas Budi Luhur dalam pemanfaatan panel surya untuk mendukung operasional hidroponik.
Dengan semangat gotong royong dan inovasi, KWT Belimbing terus berkembang menjadi kelompok yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.(adv)
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agung S Pambudi











