KOTA TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah malam di kawasan pertokoan Modernland, Kota Tangerang, seorang anak laki-laki tampak duduk di teras sebuah toko. Di depannya, terdapat wadah plastik berisi camilan dan tisu yang ia jajakan kepada pengunjung.
Ia adalah Zahra (12), siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Kota Tangerang yang setiap malam berjualan camilan dan tisu untuk membantu ekonomi keluarganya.
Saat teman sebayanya beristirahat di rumah, Zahra justru masih berada di luar rumah untuk menawarkan dagangannya demi membantu sang ibu.
Setiap hari, ia memulai rutinitas sepulang sekolah sekitar pukul 15.00 WIB. Zahra terlebih dahulu pulang ke rumahnya di kawasan sekitar Universitas Islam Syekh Yusuf (Unis), dekat Taman Burung, untuk beristirahat sejenak sebelum kembali berjualan pada malam hari.
“Pulang sekolah istirahat sebentar, makan, habis itu langsung berangkat jualan,” ujarnya, Kamis (9/4/2026) malam.
Dengan berjalan kaki, Zahra menuju kawasan pertokoan Modernland sambil membawa dagangannya. Ia tidak hanya menunggu pembeli, tetapi juga berkeliling menawarkan dagangannya kepada pengunjung.
Aktivitas ini sudah ia jalani selama kurang lebih tiga tahun. Sebelumnya, ia sempat berjualan di area SPBU dekat Mall Tangcity.
Di balik kegigihannya, terdapat cerita keluarga yang menguatkan langkahnya. Zahra tinggal bersama ibu dan seorang kakak setelah ayahnya meninggal dunia. Ia merupakan anak kedelapan dari delapan bersaudara.
Keinginannya untuk berjualan muncul dari dirinya sendiri untuk membantu sang ibu yang berjualan cendol dan kerap terkendala modal usaha.
“Saya mau bantu mama. Mama yang belanja, nanti saya yang jualin,” katanya.
Dari hasil jualannya, Zahra menjual tisu seharga Rp10.000 dengan keuntungan sekitar Rp3.000 per bungkus. Sementara camilan dijual mulai Rp5.000. Namun, tidak setiap hari dagangannya habis terjual.
“Sering tidak ada yang beli. Kalau begitu saya keliling lagi sampai malam,” ungkapnya.
Tak jarang, Zahra baru pulang sekitar pukul 23.00 WIB hingga tengah malam. Meski begitu, ia tetap bangun keesokan harinya untuk kembali bersekolah.
Uang hasil jualan diserahkan kepada ibunya. Dari situ, ia mendapatkan uang jajan sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari, yang sebagian digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sebagian lagi ditabung.
“Kadang buat jajan, kadang buat nabung. Buat bantuin mama nanti,” ujarnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Zahra memiliki mimpi besar, yakni menjadi seorang dokter.
“Pengen jadi dokter,” katanya singkat.
Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi agar cita-citanya bisa terwujud. Baginya, berjualan bukanlah hal yang memalukan, melainkan bentuk usaha untuk membantu keluarga.
“Nggak malu, yang penting halal,” tegasnya.
Di tengah malam yang terus berjalan, Zahra tetap bertahan dengan harapan besar untuk masa depannya.
Editor: Mastur Huda










