KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Generasi muda mendorong Kabupaten Tangerang bertransformasi dari kota satelit yang selama ini menjadi wilayah penyangga Jakarta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Kota Satelit: Tangerang Antara Harapan dan Tantangan” yang digelar pada Minggu, 28 Juni 2026. Diskusi ini diselenggarakan oleh Rumah Pergerakan Tangerang.
Dalam diskusi tersebut, Ade Putra mengatakan Kabupaten Tangerang memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat inovasi yang mampu menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
Menurutnya, sudah saatnya kota satelit bertransformasi menjadi inkubator bisnis baru dengan melibatkan peran aktif generasi muda.
“Jadi, generasi muda harus berhenti bergantung pada lapangan pekerjaan di pusat kota, namun harus mulai menciptakan solusi dari daerahnya sendiri,” ujarnya.
Ade mengungkapkan, ketergantungan ekonomi terhadap Jakarta selama ini turut memicu berbagai persoalan perkotaan, seperti kemacetan, tingginya mobilitas komuter, hingga meningkatnya polusi udara.
Oleh karena itu, ia mendorong anak muda mengembangkan sektor-sektor strategis, seperti digital hub lokal, aplikasi mobilitas, platform e-commerce untuk produk UMKM, hingga pertanian berbasis teknologi.
Menurut Ade, keunggulan kota satelit terletak pada ketersediaan ruang yang lebih luas dan biaya operasional yang lebih kompetitif sehingga berpotensi melahirkan wirausaha muda dan industri kreatif.
Ia menambahkan, keberhasilan transformasi kota satelit sangat bergantung pada keberanian generasi muda dalam berinovasi, membangun kolaborasi, dan menciptakan lapangan kerja tanpa harus meninggalkan daerah asal.
Sementara itu, aktivis Tangerang, Aziz Patiwara, menilai transformasi kota satelit tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan investasi maupun pembangunan fisik.
Menurut Aziz, arah pembangunan harus berorientasi pada keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kita sangat mendukung inovasi dan investasi, tetapi pembangunan juga harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan tidak melahirkan ketimpangan baru,” ujarnya.
Aziz mengatakan, generasi muda memiliki tanggung jawab sebagai agen perubahan yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga mengawal kebijakan publik agar pembangunan berlangsung secara partisipatif, berkeadilan, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Ia menambahkan, kota satelit harus menjadi ruang yang menghadirkan kesempatan yang setara, menjaga kelestarian lingkungan, serta membuka akses yang adil terhadap pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.
“Karena menurut saya, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat,” pungkasnya.*
Editor : Krisna Widi Aria











