SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten mengingatkan umat Islam agar tidak mengenakan pakaian yang menyerupai lawan jenis saat mengikuti berbagai kegiatan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Imbauan tersebut terutama ditujukan pada perlombaan 17 Agustus yang kerap menghadirkan peserta laki-laki mengenakan pakaian perempuan maupun sebaliknya.
Sekretaris Umum MUI Provinsi Banten, H. Endang Saeful Anwar, mengatakan berbagai perlombaan untuk memeriahkan HUT RI pada dasarnya diperbolehkan atau mubah.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, kebersamaan, dan semangat kemerdekaan. Namun, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan norma agama, termasuk persoalan pakaian dan ketertiban.
“Satu sisi memang ini sebuah tradisi di masyarakat yang sudah sepertinya agak sulit kita hilangkan. Tetapi dalam perspektif Islam, tentu hukum dalam menyerupai laki-laki dan perempuan atau perempuan ke laki-laki ini yang kita sebut dengan tasyabbuh atau penyerupaan,” kata Endang saat ditemui di kantornya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Endang menjelaskan, semangat memeriahkan Hari Kemerdekaan tidak menjadi alasan untuk mengabaikan norma dan etika yang harus dijaga umat Islam.
Karena itu, ia meminta masyarakat maupun panitia perlombaan mempertimbangkan bentuk kegiatan yang digelar agar tetap memberikan hiburan tanpa bertentangan dengan ajaran agama.
“Dalam lomba-lomba 17 Agustus ini satu sisi ini adalah memeriahkan ulang tahun Indonesia atau Hari Kemerdekaan 17 Agustus, tapi satu sisi juga tentu ada norma dan etika yang harus kita jaga selaku muslim atau muslimah,” ujarnya.
Menurut Endang, tindakan sengaja menyerupai lawan jenis atau tasyabbuh merupakan perilaku yang tidak diperbolehkan dalam perspektif ajaran Islam.
Karena itu, panitia di tingkat lingkungan hingga desa dan kelurahan diharapkan menghindari perlombaan yang mengharuskan peserta menggunakan pakaian atau atribut yang menjadi identitas lawan jenis.
Ia mengatakan larangan tersebut salah satunya berkaitan dengan konsep fitrah manusia.
“Laki-laki dan perempuan itu Allah ciptakan sesuai dengan fitrahnya, termasuk fitrah dalam perilaku atau juga sesuatu yang sudah menjadi ciri, ciri identik bahwa ini laki-laki, bahwa ini adalah perempuan,” tuturnya.
Endang juga mengaitkan pandangan tersebut dengan Alquran, salah satunya Surah An-Nisa.
“Jadi masing-masing sudah ada bagiannya, masing-masing sudah ada bagiannya satu sama lainnya tidak boleh iri terhadap karunia yang telah Allah berikan baik kepada laki-laki dan juga kepada perempuan,” katanya.
Ia menilai tasyabbuh dapat terlihat dari sesuatu yang menjadi identitas atau ciri khas laki-laki dan perempuan.
Reporter: Nurandi – Editor: Aas Arbi












