SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten mendorong Musyawarah Daerah (Musda) VI yang dijadwalkan berlangsung Desember 2026 tidak berhenti pada agenda pergantian kepengurusan dan pembahasan organisasi. Forum tersebut diharapkan menghasilkan program yang realistis, terukur, dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ketua Umum MUI Banten KH A Bazari Syam mengatakan, rangkaian kegiatan menjelang Musda juga perlu diisi dengan program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan Musda tidak hanya ditentukan oleh kelancaran acara puncak, tetapi juga manfaat yang dihasilkan sebelum dan setelah forum tersebut.
“Musda ini diharapkan berjalan dengan baik, lancar, dan sukses. Saya berharap kegiatan Musda ini tidak hanya sekadar seremoni atau ritual organisasi, tetapi juga menjadi pengalaman baru bagi kita dan ada eksekusi nyata,” ujar KH A Bazari Syam dalam rapat persiapan Musda VI MUI Banten di Kota Serang, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia meminta pengurus memperbanyak kegiatan sosial dan kemasyarakatan sebelum Musda digelar. Kolaborasi dengan lembaga sosial maupun berbagai pihak juga dinilai penting untuk memperluas manfaat kegiatan MUI.
“Jangan hanya sekadar ritual organisasi. Sebelum kegiatan Musda, saya mohon kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan untuk masyarakat lebih banyak digelar. Masyarakat akan mengukur seberapa besar kualitas Musda ini dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan sebelumnya,” katanya.
Bazari juga meminta sejumlah kegiatan yang belum terlaksana segera ditindaklanjuti. Menurutnya, momentum menuju Musda harus dimanfaatkan untuk menunjukkan peran MUI secara konkret di tengah masyarakat.
“Masih ada beberapa kegiatan yang belum dilakukan. Mestinya itu segera dilakukan, termasuk kegiatan-kegiatan sebelum Musda. Jangan sampai Musda hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menghasilkan sesuatu yang nyata,” tegasnya.
Program Musda Harus Terukur
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Banten Prof. Syibli Syarjaya sependapat bahwa substansi dan hasil Musda harus menjadi perhatian utama. Menurutnya, MUI memiliki posisi strategis karena menjadi representasi berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Banten.
Karena itu, MUI harus mampu menjadi contoh bagi organisasi lainnya, termasuk dalam menghasilkan program yang benar-benar memberikan manfaat kepada umat.
“Kita harus menjadi suri teladan, menjadi contoh bagi ormas-ormas yang lain. Karena yang ada di Majelis Ulama Indonesia ini merupakan representasi dari ormas-ormas Islam yang ada di Provinsi Banten,” ujar Prof. Syibli.
Ia mengatakan, Musda VI MUI Banten direncanakan berlangsung pada 11-13 Desember 2026 di Grand El Hajj, Cipondoh, Kota Tangerang. Persiapan teknis seperti akomodasi peserta tetap penting, tetapi menurutnya hal yang lebih utama adalah hasil yang lahir dari forum tersebut.
“Output atau outcome dari Musda tersebut harus bisa dirasakan oleh masyarakat. Kita tentu punya dua rel yang sangat kokoh, yaitu khadimul ummah dan shadiqul hukumah. Ketika berbicara tentang itu, kita harus menyampaikan apa yang bisa kita lakukan kepada masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Prof. Syibli meminta Steering Committee (SC) menyusun program kerja yang sesuai kebutuhan masyarakat dan memungkinkan untuk dilaksanakan.
“Saya mohon Pak Ketua SC betul-betul merancang program tersebut, program yang oriented. Jangan program yang mengawang-awang dan tidak bisa dibuktikan. Buat program yang bisa dirasakan oleh masyarakat Banten pada umumnya, khususnya umat Islam,” katanya.
Menurut Prof. Syibli, setidaknya terdapat tiga agenda utama yang harus dihasilkan melalui Musda VI MUI Banten. Pertama, memilih ketua umum. Kedua, menyusun program kerja untuk periode berikutnya. Ketiga, mengevaluasi laporan pertanggungjawaban kepengurusan selama lima tahun sebelumnya.
Dengan demikian, Musda VI MUI Banten diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga arah program yang jelas dan dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Editor: Aas Arbi












