PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Bencana kekeringan akibat kemarau panjang di Kabupaten Pandeglang, Banten, semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang mencatat, hingga 29 September 2026, sebanyak 27 kecamatan terdampak kekeringan hingga mengalami krisis air bersih.
Kondisi ini dipicu tidak turunnya hujan selama beberapa bulan terakhir. Dampak paling parah dirasakan masyarakat di wilayah Pandeglang bagian selatan, salah satunya Kecamatan Cikeusik. Di kecamatan tersebut, seluruh 14 desa dilaporkan mengalami kekeringan.
Masyarakat di wilayah terdampak kesulitan mendapatkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sumber air permukaan dan sumur gali milik warga mulai mengering.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBDPK Pandeglang bersama Kodim 0601/Pandeglang dan kepolisian setempat terus mempercepat distribusi bantuan air bersih menggunakan armada tangki.
Meski demikian, petugas di lapangan menghadapi tantangan berupa keterbatasan unit armada tangki air serta akses geografis yang jauh menuju pelosok desa terdampak, khususnya di wilayah selatan.
Bantuan air bersih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan prioritas warga sembari menunggu masuknya musim penghujan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBDPK Kabupaten Pandeglang Lilis Sulistiati mengatakan, bencana kekeringan di Kabupaten Pandeglang terus meluas.
“Pada tanggal 2 September 2026 masih 15 kecamatan yang mengalami kekeringan hingga krisis air bersih. Tapi masuk tanggal 29 September 2026 sudah 27 kecamatan terdampak bencana kekeringan,” katanya, Selasa, 29 September 2026.
Kecamatan yang mengalami kekeringan yakni Cadasari, Pandeglang, Karangtanjung, Majasari, Panimbang, Patia, Picung, Sindangresmi, Munjul, Angsana, Sukaresmi, Cikeusik, Sobang, Cigeulis, Cisata, Koroncong, Kaduhejo, Bojong, Mekarjaya, Labuan, Carita, Banjar, dan Cibaliung.
“Adapun mengalami krisis air bersih tersebar di 90 desa. Dengan jumlah KK 20.473 KK dan jumlah jiwa sebanyak 69.591 jiwa,” katanya.
Lilis menerangkan, data dampak kekeringan tersebut merupakan data sementara per 29 September 2026. BPBDPK Kabupaten Pandeglang terus membantu warga terdampak dengan mendistribusikan bantuan air bersih.
“Menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang membutuhkan tersebar di 27 kecamatan. Total air bersih sudah terdistribusi sebanyak 964.000 liter,” katanya.
Menurut Lilis, kekeringan telah meluas dari total 35 kecamatan di Kabupaten Pandeglang.
“Bencana kekeringan makin meluas khususnya wilayah Pandeglang selatan karena memang dalam beberapa bulan terakhir ini tidak turun hujan. Saat ini ada juga hujan dengan intensitas kecil dan hanya beberapa wilayah saja,” katanya.
Kemarau Diproyeksikan Berlanjut
Terkait kondisi kekeringan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) disebut memproyeksikan musim kemarau di wilayah Banten masih akan berlanjut hingga November 2026.
Dalam naskah tersebut disebutkan, proyeksi itu membuat musim kemarau diperkirakan lebih panjang dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menyebut puncak musim kemarau terjadi pada Agustus–September 2026.
Kemarau yang lebih panjang disebut berkaitan dengan fenomena El Nino kuat serta potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diprediksi bertahan hingga akhir tahun. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko krisis air bersih, kekeringan meteorologis, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Sekretaris BPBDPK Kabupaten Pandeglang Nana Mulyana, informasi mengenai kemungkinan kemarau yang lebih panjang membuat pihaknya harus meningkatkan kesiapsiagaan.
“Sebab masyarakat akan mengalami krisis air bersih lebih lama,” katanya.
Nana mengatakan, tantangan lainnya adalah terbatasnya potensi awan hujan yang dapat mendukung turunnya hujan di wilayah Pandeglang.
“Tidak adanya awan potensi hujan membuat BMKG tidak dapat melakukan modifikasi hujan atau hujan buatan. Karena memang tidak ada potensi awan hujan,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperparah kekeringan dan memperluas krisis air bersih. Bahkan, sejumlah sumber air yang digunakan untuk mengisi mobil tangki BPBD mulai mengalami penurunan debit.
“Termasuk sumber air depot pengisian mobil tangki BPBD di Labuan sudah turun. Aliran air mulai mengecil tidak lagi mengalir deras,” katanya.
Kondisi tersebut memperlambat proses pengisian air ke mobil tangki sehingga waktu pengisian menjadi lebih lama dan harus mengantre.
“Apalagi nanti apabila memang kemarau sampai November. Maka ini harus dipersiapkan kaitan sumber air bersih untuk bantuan kepada masyarakat,” katanya.
Saat ini, Nana menerangkan, pihaknya tengah berkoordinasi untuk mencari sumber air bersih alternatif.
“Untuk Kota Cilegon itu untuk air bersih itu bisa dibantu dari PT Candra Asri yang mengubah air laut menjadi air bersih. Nah Pandeglang ini kita harapkan ada ya semoga saja dari PLTU Banten 2 Labuan juga melakukan pengolahan sama yakni air laut menjadi air bersih,” katanya.
Menurut Nana, sumber air bersih di wilayah selatan sangat dibutuhkan untuk mempercepat layanan pendistribusian air bersih. Dengan demikian, mobil tangki tidak perlu berulang kali menempuh perjalanan jauh menuju sumber air di wilayah perkotaan.
“Selain waktu dari BBM juga lebih boros. Apalagi mobil tangki BBM itu harus ngisi BBM jenis Dexlite. Jadi harus yang non subsidi padahal kita sudah mengajukan ke Kementerian ESDM agar mobil tangki air BPBD bisa pakai yang subsidi tapi enggak bisa kecuali mobil ambulance dan pemadam kebakaran padahal kan mobil tangki air ini juga digunakan untuk suplai air pemadam dan bantuan air bersih,” katanya.
Editor: Aas Arbi












