SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Banten memastikan stok beras di daerah masih aman di tengah dampak cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah pertanian.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, M Nasir, mengatakan pemantauan stok dan harga pangan dilakukan setiap hari untuk memastikan pasokan beras tetap tersedia dan harga tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Setiap hari kita kawal agar beras yang beredar di masyarakat itu tidak boleh naik di atas HET,” kata Nasir, Selasa 6 Oktober 2026.
Menurut Nasir, perhatian pemerintah saat ini difokuskan pada beras medium dan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Kedua jenis beras tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di masyarakat.
“Yang kita pantau adalah beras medium, beras SPHP. Itu beredar luar biasa banyaknya. Itu yang membuat kita sampai hari ini tidak khawatir terkait stok beras di wilayah Provinsi Banten,” ujarnya.
Nasir mengakui ketersediaan beras premium di sejumlah wilayah cenderung terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak berarti terjadi kelangkaan beras di Banten.
Ia juga menyebut stok beras nasional yang dikuasai Perum Bulog masih berada di kisaran 4,8 juta ton. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keamanan pasokan beras di daerah.
“Stoknya di Bulog, angka nasional ini masih 4,8 juta ton. Ini kan masih banyak,” katanya.
Selain mengandalkan stok nasional, pasokan beras Banten juga ditopang dari daerah sentra produksi seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Nasir mengatakan banyaknya pasokan yang masuk ke pasar induk menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di Banten.
“Semakin banyak pasokan yang masuk di pasar induk, semakin stabil,” ujarnya.
Produksi Lokal Tetap Didorong
Meski pasokan beras saat ini relatif aman, Pemprov Banten tetap mendorong peningkatan produksi pangan dari dalam daerah. Langkah tersebut diperlukan agar Banten tidak terlalu bergantung pada pasokan dari daerah lain.
Nasir mengatakan peningkatan produktivitas pertanian terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi. Salah satunya melalui program teknologi PMAS yang mampu meningkatkan produktivitas dari sekitar 6,5 ton menjadi 12 ton.
“Ini salah satu cara kita nanti untuk mengembangkan komoditas pangan kita menggunakan teknologi PMAS,” katanya.
Pemprov Banten juga mendorong petani di wilayah yang mengalami keterbatasan air untuk mengoptimalkan irigasi pompa dan sarana pengairan yang tersedia.
Upaya tersebut dilakukan agar kegiatan tanam dan panen tetap berlangsung meski kondisi cuaca memengaruhi ketersediaan air.
Nasir mengakui sejumlah wilayah seperti Kabupaten Serang, Lebak dan Pandeglang terdampak kondisi cuaca. Namun, secara umum dampaknya terhadap lahan pertanian belum menimbulkan kerugian yang signifikan.
Editor Daru












