SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Banten memperkuat pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada pertanaman padi di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus mendukung upaya mempertahankan swasembada pangan.
Dalam kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tanaman OPT Padi, Kamis 8 Oktober 2026, kondisi pertanaman yang sebelumnya mengalami kekeringan mulai menunjukkan perkembangan positif. Tanaman secara bertahap kembali menghijau dan diharapkan dapat tumbuh hingga menghasilkan produksi optimal.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten menekankan pentingnya pengendalian OPT dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, pengendalian tidak cukup hanya dengan penyemprotan, tetapi harus disertai pemantauan dan evaluasi.
“Pengendalian OPT ini harus dilakukan bersama-sama, terpadu dan berkelanjutan. Setelah dilakukan pengendalian, harus tetap dimonitor dan dievaluasi efektivitasnya,” ujarnya.
Petani dan kelompok tani juga diminta aktif mengamati kondisi tanaman. Jika ditemukan kembali gejala serangan, terutama hama penggerek batang maupun OPT lainnya, laporan harus segera disampaikan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sebelum serangan meluas.
“Kalau ada serangan penggerek batang atau OPT lainnya, segera laporkan. Jangan menunggu serangannya semakin meluas,” katanya.
Apabila pengendalian pertama belum efektif, petani diminta tidak menunggu hingga mendekati masa panen. Tindakan lanjutan perlu segera dilakukan berdasarkan rekomendasi petugas di lapangan.
Produktivitas Ditarget 8-9 Ton per Hektare
Selain pengendalian hama, Dinas Pertanian Banten mendorong peningkatan produktivitas padi. Wilayah Serang, khususnya Pontang dan sekitarnya, dinilai memiliki dukungan irigasi yang relatif baik sehingga diharapkan menjadi salah satu penopang produksi padi Banten.
Plt Kepala Bidang PTHP mengingatkan bahwa peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) harus dibarengi dengan perawatan tanaman yang optimal.
“Peningkatan LTT harus diikuti dengan pemeliharaan tanaman yang optimal. Jangan sampai luas tanam bertambah, tetapi perawatannya tidak maksimal,” ujarnya.
Evaluasi hingga September menunjukkan produksi padi Banten cenderung menurun. Karena itu, produktivitas menjadi salah satu fokus yang harus ditingkatkan.
Produktivitas di lokasi kegiatan yang mencapai sekitar 7-8 ton per hektare diapresiasi dan ditargetkan dapat meningkat menjadi 8-9 ton per hektare. Sementara produktivitas rata-rata Banten yang masih sekitar 5 ton per hektare perlu didorong melalui perbaikan budidaya.
“Produktivitas di sini sudah sekitar 7 sampai 8 ton per hektare. Kita harapkan bisa meningkat menjadi 8 sampai 9 ton per hektare. Rata-rata Banten masih sekitar 5 ton per hektare, sehingga masih ada ruang untuk kita tingkatkan,” katanya.
Petani juga diminta memanfaatkan pupuk subsidi yang tersedia secara optimal. Perawatan tanaman harus dilakukan secara konsisten sejak masa tanam hingga menjelang panen.
Pengairan Jadi Perhatian
Persoalan pengairan juga menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan produksi padi. Permasalahan banjir maupun kekeringan diminta segera dilaporkan secara resmi kepada Dinas Pertanian agar dapat ditindaklanjuti.
Kelompok tani dan petani didorong menyampaikan permasalahan melalui laporan atau surat. Penanganannya membutuhkan koordinasi lintas sektor, khususnya dengan instansi yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan irigasi dan sumber daya air.
Dinas Pertanian Banten juga akan meninjau kondisi saluran atau kali di sekitar lokasi kegiatan sebagai bahan untuk menentukan kebutuhan tindak lanjut perbaikan pengairan.
“Kalau ada kendala pengairan, baik banjir maupun kekeringan, segera laporkan kepada kami. Nanti akan kita koordinasikan dengan pihak terkait untuk mencari solusinya,” ujar Plt Kepala Bidang PTHP.
Pengendalian OPT, optimalisasi pupuk, perbaikan pengairan dan peningkatan produktivitas dinilai harus berjalan beriringan. Sinergi petani, kelompok tani, penyuluh, petugas OPT, Dinas Pertanian dan instansi terkait menjadi kunci menjaga produksi padi Banten.
Dengan langkah tersebut, gerakan pengendalian diharapkan tidak hanya menekan serangan hama, tetapi juga mencegah kehilangan hasil dan mendukung peningkatan produksi padi di Provinsi Banten.
Editor : Haidaroh












