SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dimulai dari pemahaman masyarakat terhadap risiko di lingkungan tempat tinggalnya. Pengetahuan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah penyelamatan ketika bencana terjadi.
Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo mengatakan, masyarakat perlu mengetahui ancaman yang berpotensi terjadi di wilayahnya, kemudian memetakan risiko dan menentukan jalur evakuasi yang aman.
“Ketangguhan masyarakat itu pastinya masyarakat paham risiko dulu,” ujarnya, Rabu 14 Oktober 2026.
Pangarso menjelaskan, pemahaman risiko harus diikuti dengan tindakan nyata. Masyarakat perlu mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri, jalur mana yang dapat digunakan, serta bagaimana melakukan evakuasi bersama warga lainnya.
Setelah itu, kesiapsiagaan perlu diperkuat melalui aksi komunitas dan latihan evakuasi. Dengan latihan, masyarakat dapat lebih memahami prosedur penyelamatan dan mengurangi kebingungan ketika menghadapi situasi darurat.
Namun, upaya tersebut tidak dapat dilepaskan dari perencanaan pembangunan wilayah. Menurut Pangarso, pembangunan di tingkat desa harus bersinergi dengan kebijakan pemerintah kabupaten, provinsi, dan nasional.
Ia menilai, komunikasi antara masyarakat dan pemerintah juga perlu diperkuat. Berbagai praktik kesiapsiagaan yang telah dilakukan warga perlu diselaraskan dengan program pemerintah agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik risiko setiap wilayah.
Penguatan kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan beragam ancaman bencana.
“Melalui pemetaan risiko, perencanaan evakuasi, latihan, dan koordinasi lintas pemerintahan, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenali ancaman, tetapi juga mampu mengambil langkah yang tepat untuk melindungi diri dan lingkungannya,” pungkasnya.
Editor Bayu Mulyana












