SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Perjalanan politik Zuliyanto bukanlah kisah tentang kekuasaan yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang membentuk dirinya, mulai dari pengalaman berorganisasi, aktivisme mahasiswa, pengabdian sosial, hingga perjalanan kaderisasi politik sebelum akhirnya dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Serang sekaligus Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Pria kelahiran Ciruas pada 1982 ini mulai mengenal dunia organisasi sejak masih duduk di bangku sekolah. Jiwa kepemimpinannya tumbuh melalui berbagai aktivitas, mulai dari kepramukaan, organisasi siswa, gerakan mahasiswa, hingga dunia politik.
Meski baru menjalani periode pertama sebagai anggota DPRD Kabupaten Serang, pengalaman Zuliyanto di dunia organisasi dan parlemen bukanlah hal baru.
Zuliyanto mengungkapkan, ketertarikannya terhadap dunia politik tidak terlepas dari lingkungan keluarga dan proses kaderisasi yang dijalaninya sejak usia muda. Sang ayah pernah terlibat dalam salah satu partai politik pada masa Orde Baru. Sementara dirinya mulai mengenal politik melalui proses kaderisasi Partai Keadilan (PK), yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
“Berpolitik selain karena bapak ikut salah satu partai di masa Orde Baru, juga karena sejak pelajar saya sudah dikader di PKS, saat masih bernama Partai Keadilan (PK). Keterlibatan di partai berlanjut ketika menjadi mahasiswa, sampai kemudian menjadi staf ahli di DPR RI, DPRD provinsi, hingga akhirnya dipercaya menjadi anggota DPRD,” ujarnya, Minggu (1/11/2026).
Perjalanan organisasinya dimulai sejak sekolah dasar melalui kegiatan kepramukaan. Bahkan, ia pernah dipercaya menjadi peserta Jambore Nasional saat duduk di bangku SMP.
Ketika bersekolah di SMA Negeri 1 Serang, Zuliyanto dipercaya menjadi Ketua OSIS sekaligus Ketua Pramuka. Aktivitas organisasinya berlanjut saat menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya. Di kampus, ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi ekstra kampus, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Pada masa itulah karakter aktivisnya semakin terbentuk. Ia tidak hanya belajar berdiskusi dan mengelola organisasi, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai gerakan mahasiswa. Turun ke jalan, menjadi orator aksi, serta menyuarakan persoalan sosial menjadi bagian dari perjalanan aktivismenya.
Bagi Zuliyanto, demonstrasi bukan sekadar aktivitas menyampaikan kritik. Gerakan mahasiswa harus menjadi ruang untuk membangun kepedulian, mengawal kepentingan publik, sekaligus menghadirkan keberpihakan kepada masyarakat.
“Isu-isu sosial sudah biasa kami bahas sejak dulu. Kalau sekarang menjabat sebagai anggota dewan, ada penguatan dari sisi kewenangan. Kalau dulu kita kritis di luar parlemen, sekarang kita bisa merumuskan solusi menjadi sebuah kebijakan,” ujarnya.
Aktivitasnya sebagai aktivis juga tidak terbatas pada demonstrasi. Bersama rekan-rekannya di KAMMI, ia terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Mulai dari pendampingan sosial, membangun desa binaan, advokasi masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman bahwa persoalan masyarakat tidak cukup diselesaikan melalui kritik dan tuntutan. Dibutuhkan kerja nyata, pendampingan berkelanjutan, serta keberanian memperjuangkan perubahan melalui berbagai jalur.
Pengalaman di dunia parlemen bahkan telah dijalaninya jauh sebelum menjadi anggota DPRD. Selama kurang lebih 20 tahun, Zuliyanto berkecimpung di lingkungan legislatif sebagai tenaga ahli, baik di DPR RI maupun DPRD tingkat provinsi.
Pengalaman panjang tersebut memberinya kesempatan memahami proses politik dan kebijakan publik. Ia belajar bahwa aspirasi masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar keberanian menyampaikan pendapat. Aspirasi harus diperjuangkan melalui proses perencanaan, penganggaran, pengawasan, hingga pengambilan keputusan.
Bagi pria yang akrab disapa Kang Zul ini, politik pada hakikatnya merupakan instrumen untuk memperluas kemanfaatan. Kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana agar lebih banyak masyarakat dapat merasakan dampak dari sebuah perjuangan.
“Politik ini jalan bagi kita untuk melipatgandakan kebaikan. Kalau bukan menjadi dewan mungkin hanya satu dua orang yang bisa kita bantu. Tetapi ketika menjadi dewan, kita bisa membantu lebih banyak orang melalui penganggaran dan advokasi,” katanya.
Kini, setelah dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Serang sekaligus Ketua Fraksi PKS, perhatian Zuliyanto tertuju pada pembangunan daerah, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, pembangunan SDM merupakan salah satu instrumen strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan dan keterbelakangan. Karena itu, anak-anak Kabupaten Serang harus memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas agar mampu meraih masa depan yang lebih baik.
“Secara pribadi saya ingin anak-anak Kabupaten Serang bisa mengakses pendidikan yang layak. Pendidikan bisa menjadi jalan untuk memutus kemiskinan dan keterbelakangan. Kita di Kabupaten Serang belum dikenal sebagai kota pendidikan,” tuturnya.
Ia menilai pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan membangun infrastruktur fisik. Kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan juga harus menjadi indikator penting.
Kabupaten Serang, menurutnya, perlu membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul, berdaya saing, serta memiliki kebanggaan terhadap daerahnya sendiri.
Selain pendidikan, Zuliyanto juga menaruh perhatian pada pengembangan karakter wilayah. Ia mencontohkan tanah kelahirannya, Ciruas, yang ditetapkan sebagai lokasi Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Serang.
Baginya, keberadaan Puspemkab di Ciruas bukan sekadar perpindahan pusat administrasi pemerintahan. Lebih dari itu, Ciruas memiliki peluang untuk berkembang menjadi wajah sekaligus representasi kemajuan Kabupaten Serang.
“Sebagai ibu kota Kabupaten Serang, artinya Ciruas memiliki tanggung jawab administratif sebagai pusat pemerintahan sekaligus menjadi etalase Kabupaten Serang. Saya ingin Ciruas tumbuh dan berkembang menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Serang, menjadi miniatur Kabupaten Serang,” jelasnya.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, ia mendorong adanya ikon atau landmark yang dapat menjadi identitas sekaligus kebanggaan daerah. Salah satu gagasannya adalah revitalisasi Taman Kota Ciruas dan optimalisasi fungsi kawasan Puspemkab agar lebih representatif, tertata, serta memiliki daya tarik bagi masyarakat maupun pengunjung dari daerah lain.
Menurutnya, wajah sebuah daerah juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun ruang publik dan menghadirkan lingkungan yang nyaman bagi warganya.
“29 kecamatan di Kabupaten Serang punya sejarah, potensi, dan karakter khasnya masing-masing. Karenanya, saya berharap pembangunan di semua kecamatan tersebut bisa memperkuat karakter khas masing-masing,” ujarnya.
Dari perjalanan panjang sebagai aktivis mahasiswa hingga menjadi bagian dari lembaga legislatif, Zuliyanto membawa satu prinsip yang terus dipegangnya: politik harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Jika dahulu ia berdiri di jalanan untuk menyuarakan aspirasi, kini ia berada di dalam lembaga legislatif untuk memperjuangkannya melalui kebijakan.
Ruang perjuangannya memang berubah, tetapi semangat dasarnya tetap sama, yakni memastikan suara masyarakat tidak berhenti sebagai tuntutan, melainkan berujung pada perubahan.
Editor: Mastur Huda












