SERANG – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten menggelar Diseminasi ‘Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers Dalam Meliput Isu-isu Terorisme,” di D’wiza Resto, Jalan Syeikh Nawawi Albantani No 20, Banjarsari Cipocok Jaya, Kota Serang, Selasa (29/11).
Salah satu narasumber diseminasi adalah Iwan Setiawan. Iwan adalah salah satu kroban bom di Kedutaan Besar Australia, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, 9 September 2004 silam.
Iwan dihadirkan oleh FKPT untuk berbagi kisah dengan peserta desiminasi.
“Awalnya saya melintas depan kedubes untuk mengantarkan istri saya check up kandungan. Tidak lama pas saya melintas tiba-tiba bom meledak, hari Kamis sekira pukul 09.45 pagi,” kata Iwan sambil terbata-bata.
Begitu bom meledak, Iwan dan istri yang berboncengan mengendarai sepeda motor langsung terpental dari motor. “Saya langsung terpental dan mata kanan saya luka berat hingga bola mata saya keluar, tapi masih menggantung. Mata saya luka terkena pecahan mobil boks. Kemudian saya lihat istri saya. Da juga amat terluka parah dari muka sampai kaki,” ungkapnya..
Karena luka yang teramat parah, akhirnya istri Iwan menghadap Illahi. “Istri saya akhirnya meninggal karena tulang belakangnya busuk,” katanya.
Setelah kejadian itu, Iwan tak menyerah dengan keadaan fisik yang sudah tidak sempurna seperti sediakala. Ia tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan. “Sekarang saya di Brebes buka servis komputer yang saya beri nama Bombom Komputer. Saya berharap nama bom kan besar, dasyat. Saya berharap usaha sata seperti bom itu,” harapnya.
Kata Iwan, hidup itu seperti tukang dan tempat parkir. banyak motor dan mobil di area parkir. Ketika mobil itu diambil oleh pemiliknya maka itu hanyalah titipan.
Pada kesempatan itu, Ketua FKPT Banten Rumiaah Kartoredjo mengatakan seminar untuk mengoordinasikan antara pemerintah, para penegak hukum TNI Polri dan insan media massa.
“Seharusnya acara ini akan dilakukan di bulan depan. Ternyata allah berkehendak lain, kondisi Banten saat ini sedang ada permasalahan teroris maka kami laksanakan hari ini,” katanya.
Desiminasi tersebut, lanjut Rumiah, juga untuk melakukan pencegahan. Semoga tidak makin bertambah jaringan terorisme di Banten. “Agar Banten tidak lagi menjadi tempatnya produktif calon radikalis, sebagai pelaku atau perakit. Kita harus berkoordinasi dengan humas polri tni dan media. Intinya untuk melakukan pencegahan jangan sampai membuat mereka lebih hidup lagi,” ujarnya.
Ia berharap dengan adanya diseminasi tersebut dapat menjadikan Banten bersih jaringan radikalisme
“Biarlah kejadian kemarin menjadi sejarah kemarin. Dan yang akan datang akan lebih bersih lagi,” harapnya. (Wirda)










