SERANG – Krisis air bersih di wilayah Kabupaten Serang meluas. Hal itu terlihat dari semakin bertambahnya permintaan air bersih dari masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang mencatat, sudah 490.000 liter air bersih yang disalurkan kepada masyarakat di beberapa wilayah kecamatan.
Sekretaris BPBD Kabupaten Serang M Furqon Syafiudin mengungkapkan, hasil assessment tim BPBD di lapangan, ada tiga kecamatan yang mengalami krisis air bersih di Kabupaten Serang. Namun, wilayah yang mengajukan permohonan air bersih kepada Perusahaan Daerah Air Mineral (PDAM) Tirta Al-Bantani mencapai delapan kecamatan. Lantaran itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan PDAM Tirta Al-Bantani dan Dinas Sosial terkait pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang terkena dampak kekeringan tersebut.
“Truk pengangkut air di BPBD tidak mencukupi untuk permintaan masyarakat yang lumayan tinggi. Makanya, kita minta bantuan BPBD Banten,” ungkap Furqon saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Tamansari, Kota Serang, Rabu (30/8).
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD selama Agustus tahun ini, kata Furqon, sudah ada 41 kegiatan penyaluran air bersih di tujuh kecamatan. Meliputi BPBD empat kali, Dinas Sosial Kabupaten Serang satu kali, dan PDAM Tirta Al-Bantani 36 kali.
“Dari PDAM saja sudah menyalurkan 325.000 liter. Kalau dari BPBD dan Dinsos 150.000 liter,” ujarnya.
Wilayah yang mengajukan permohonan penyaluran air bersih, lanjut Furqon, antara lain Kecamatan Carenang, Binuang, Tirtayasa, Lebakwangi, Pontang, Tanara, Kibin, dan Kecamatan Cikande. Kata Furqon, bantuan penyaluran air bersih diberikan karena kondisi air di wilayah Serang Utara sudah tidak layak. Mayoritas warga Serang Utara bergantung pada saluran air irigasi dari Sungai Ciujung.
“Ada air sumur tapi asin. Kalau dipakai mandi lengket,” tukas mantan camat Cikeusal itu.
Penyebab terjadinya kekeringan, dijelaskan Furqon, akibat pencemaran limbah dan saluran irigasi yang jebol. Furqon mengaku, sudah mengantisipasi terjadinya kekeringan yang meluas di Kabupaten Serang. Jika September curah hujannya minim, dimungkinkan kekeringan meluas.
“Tapi, saya enggak tahu ke depannya bagaimana. Kita harus koordinasi dengan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika-red) dulu,” ujarnya.
Aktifis Riung Hijau Anton Jordan Susilo menambahkan, kekeringan di wilayah Serang Utara sering terjadi. Terutama saat musim kemarau.
“Ini harus diselesaikan oleh pemda. Semua instansi harus bahu membahu,” pinta warga Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa itu.
Menurut Anton, solusi untuk menyelesaikan permasalahan kekeringan di Serang Utara dengan mengalokasikan program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).
“Paling tidak, saluran air dari PDAM. Kalau tidak, tidak akan pernah teratasi,” terangnya.
Anton menilai, program Pamsimas di Serang Utara belum menjangkau seluruh warga dan tidak tepat sasaran. Pamsimas, hanya ada di tiga desa di Kecamatan Pontang dan Tirtayasa. Padahal, Pamsimas bisa menetralisir dari air tidak layak menjadi layak.
“Di Desa Tengkurak ada, tapi tidak mengalir ke rumah warga. Hanya satu titik saja. Harusnya dirubah sistemnya,” harapnya. (Rozak/RBG)









