slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung

Redaksi by Redaksi
09-02-2018 12:03:22
in Berita Utama, Catatan Dahlan Iskan
Bagaimana Memopulerkan Orang Mampu

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

SAYA jatuh sakit lagi. Serius. Sangat serius. Akhir Desember lalu. Saat menjalani umrah bersama keluarga. Pembuluh darah utama saya koyak. Koyakannya panjang sekali.

Pembuluh utama yang disebut aorta itu diameternya empat sentimeter. Yang tugasnya mengalirkan dengan deras darah yang baru keluar dari jantung. Yang akan membawa darah ke seluruh badan: ke otak, ke lengan, ke organ-organ di sekitar perut dan ke seluruh bagian bawah badan.

Baca Juga :

Sayap Ekonom

Copot Kursi

Penasihat Komisaris

Hakka

Akibatnya, pasok darah ke perut, liver, ginjal, pankreas, dan ke arah dua kaki saya terganggu berat. Bagian-bagian itu sakit semua. Hanya saja otak saya tidak terganggu. Saya masih bisa berpikir. Apa yang harus saya lakukan. Semula saya tidak tahu kalau aorta saya koyak.

Tahunya dada sakit, punggung sakit, tidak bisa bernapas, perut terasa penuh sesak, tidak bisa kentut, dan tidak bisa pup. Karena dada dan punggung sakit, saya mengira lagi kena serangan jantung. Sakitnya bukan main. Menyiksa. Napas tersengal. Dada nyeri. Punggung sakit. Perut sesak. Tidak bisa kentut. Tidak bisa pup.

Saat siksaan itu terjadi saya lagi tiduran di kamar hotel saya di Madinah, Arab Saudi. Lagi menunggu azan zuhur yang masih lama. Tiba-tiba saja tidak bisa bernapas. Saya terpaksa bangun dan berdiri. Agar bisa bernapas. Itu pun harus dalam posisi wajah menengadah dan mulut terbuka. Dada nyeri. Punggung sakit. Perut sesak.

Saya kian berkesimpulan saya kena serangan jantung. Saya pun memberitahu istri bahwa saya kena serangan jantung. Sambil memukul-mukul dada yang nyeri. Dan wajah terus dalam posisi menengadah. Agar bisa bernapas meski sangat berat.

Istri memberitahu anak menantu di kamar lain. Secepat kilat seluruh keluarga sudah berkumpul di kamar saya. Panik. Saya tidak bisa bicara. Hanya terus nerocos yang kurang jelas bahwa saya kena serangan jantung. Cepat bawa ke dokter. Atau rumah sakit terdekat.

Istri saya terus menyiramkan sisa minyak kayu putih ke dada dan punggung saya. Azrul Ananda, anak saya, memapah saya menulusuri lorong menuju lift. Isna Fitriana, anak wedok saya, sibuk dengan handphone-nya mencari kontak dokter dan rumah sakit. Tatang, suami Isna, lari ke bawah mencari taksi. Ivo, istri Azrul menenangkan enam cucu yang ikut kumpul dan melongo semua.

Sepanjang dipapah di lorong menuju lift saya terus berusaha mengatakan bahwa saya kena serangan jantung. Sambil memukul-mukul dada. Maksud saya agar saya mendapat prioritas lift.

Di sepanjang lobi saya juga terus berusaha teriak bahwa saya kena serangan jantung. Siapa tahu ada dokter di kerumunan orang di lobi itu. Keluar hotel, melewati parkir, taksi sudah siap. Sedan. Cukup tiga orang: Azrul, Tatang dan saya.

Saya terus bicara keras sebisa saya. Bahwa saya kena serangan jantung. Suara saya memang tidak jelas karena posisi saya harus terus menengadah dan mulut terus membuka. Tapi, sopir taksi cukup paham kata-kata “I got heart attack” yang terus saya ucapkan secara darurat.

Saya rasakan sang sopir lagi zig-zag. Menerobos lalu lintas Kota Madinah yang ramai. Bahkan, saya lirik taksi ini memotong jalan. Melanggar aturan. Demi cepat mencapai rumah sakit. Dalam hati saya memuji keberanian sopir melanggar aturan itu.

Azrul memapah saya menuju UGD. Tatang membereskan taksi. Sepanjang dipapah menuju ruang UGD napas saya masih tersengal. Hanya bisa bernapas dalam posisi wajah menengadah. Dan mulut membuka. Meski suara kurang jelas, saya terus mengucapkan kata-kata bahwa saya lagi kena serangan jantung. Agar perawat dan dokter di situ ambil perhatian serius. Benar saja. Perawat bergegas membawakan kursi roda. Mendorong saya menuju ruang perawatan.

Membaringkan saya di tempat tidur pemeriksaan. Namun, begitu berbaring saya terjunggit bangun. Saya tidak bisa bernapas dalam posisi berebah. Dokter langsung membuat tempat tidur itu dalam posisi tegak separo. Agar saya bisa diperiksa dalam posisi setengah duduk. Sambil napas terus tersengal, wajah menengadah dan mulut terbuka.

Madinah lagi musim dingin. Udara kering. Bibir kering. Tenggorokan yang terus membuka ikut kering. Saya minta Azrul, yang terus memijiti punggung saya yang nyeri untuk meneteskan air ke tenggorokan saya yang terus membuka. Setiap lima menit. Saya masih bisa berpikir tenggorokan itu bisa luka. Dan menimbulkan persoalan tersendiri.

Saya menengok wajah dokter. Arab. Terlihat dari wajah, brewok dan pakaian gamisnya. “Saya kena serangan jantung,” kata saya padanya. Beberapa kali. Sambil memukul dada yang sakit. Punggung saya juga sakit dan perut saya terasa penuh sesak.

“Dari mana kamu tahu kena serangan jantung,” tanya dokter. “Sepupu saya meninggal minggu lalu. Dengan gejala yang sama,” jawab saya tersengal.

Seminggu terakhir ini keluarga saya dari Magetan memang terus menceritakan drama meninggalnya KH Ridlo Tafsir, kiai kami di Takeran, Magetan. Akibat serangan jantung.

Saya begitu terpengaruh kisah-kisah itu. Tapi setidaknya, dengan mengatakan kena serangan jantung, dokter segera ambil tindakan. Saya lihat ada dua tempat tidur pemeriksaan di ruang itu. Beberapa pasien diperiksa di kursi roda. Atau di kursi.

Ada perawat berkebangsaan Filipina yang bisa berbahasa Indonesia. Dialah yang memarahi saya agar tidak terus berteriak kesakitan. Saya tidak memedulikannya. Dia tidak tahu tersiksanya badan saya.

Dokter Madinah ini bergegas menyiapkan alat-alat pemeriksaan jantung. Di kanan kiri tempat tidur saya. Perekaman jantung dimulai. Stetoskop dipindah-pindah: dari dada kiri, dada kanan, bagian-bagian di perut dan punggung.

“Jantung Anda prima. Baik sekali,” ujar dokter setelah membaca print-out rekaman jantung. “Anda ini tidak apa-apa. Anda boleh kembali ke hotel,” ujar dokter tersebut. Kata-kata dokter itu diucapkan dengan nada tertentu. Seperti menyalahkan saya. Memojokkan saya. Sok tahu kena serangan jantung. Bikin ruangan bising. Bikin semua perawat sibuk.

Meski dipojokkan begitu saya lega. Jantung saya ternyata dalam kondisi prima. Menjadi pasti sakit saya ini…..bukan serangan jantung. Berarti tidak akan mati mendadak. Tapi sakit apa? Saya tidak mau meninggalkan rumah sakit. Napas saya masih sesak. Masih tersengal. Posisi badan pun masih serbasalah. Serbasakit.

Dada masih nyeri. Punggung masih sakit. Perut masih terasa sangat penuh. Saya menolak pergi dari RS. Tapi, saya tidak panik lagi. Sudah lebih tenang. Sudah ada penegasan saya tidak kena serangan jantung. Tidak akan segera menyusul Kiai Ridlo Tafsir, sepupu saya itu. Tapi, saya ini sakit apa?

Saya pun menceritakan asal usul apa yang terjadi sebelum sakit ini. Dokter mau mendengarkan. Lalu memeriksa lebih teliti perut saya. Rupanya dia melihat perut saya memang bergejolak. Akibat makanan-makanan yang dengan rakus saya lahap sepanjang pagi itu.

Dokter tidak lagi memaksa saya meninggalkan rumah sakit. Saya benar-benar tidak kuat menahan sesak napas, nyeri dada, sakit punggung dan perut yang sesak. Sebagai gantinya dokter minta suster untuk menyuntik saya morphin. Dua kali suntikan. Untuk menghilangkan semua rasa sakit itu.

Saya pasrah saja. Azrul menawari saya apakah ingin minum minuman hangat. Misalnya, cokelat panas. Untuk selingan agar tidak terus meneguk air putih. Saya mengangguk. Tatang, menantu saya lari mencari cokelat panas.

Setelah coklat segelas kecil saya teguk habis dokter bertanya: minum apa itu? “Cokelat,” kata Azrul. Dokter pun marah. Saya tidak boleh makan atau minum apa pun kecuali air putih.

Pencernaan saya harus diistirahatkan setelah tadi pagi terlalu banyak macam-macam isi. Dua kali suntikan morphin itu ternyata tidak mempan. Sakit-sakit itu tidak terasa berkurang. Saya terus berbising. Tidak tahan. Akhirnya dokter memberi isyarat kepada perawat. Sambil menggerakkan tangan, sambil mengedipkan mata.

Isyarat untuk memberikan suntikan rahasia. Saya bisa menduga isyarat rahasia itu: disuntik obat tidur. Benar saja, perawat mengambil alat suntik. Tanpa memberitahu obat apakah itu. Langsung menyuntikannya.

Saya tahu. Itu obat tidur. Saya pasrah. Hanya saja obat tidur itu juga tidak bisa membuat saya tidur. Rasa sakitnya melebihi kekuatan obat tidurnya. Tapi, saya tidak punya kekuatan untuk bising lagi. Saya lemas. Sakitnya tetap, tapi lemas.

Setengah jam kemudian dokter memutuskan saya harus meninggalkan rumah sakit. Sudah lima jam saya mendominasi gawat darurat. Saya tidak punya kekuatan lagi. Menyerah.

Dokter menegaskan bahwa saya harus sabar. Menunggu pencernaan saya memproses secara alami segala makanan berat yang saya lahap. Nanti akan normal kembali. Tunggu saja. Pulanglah ke hotel. Begitu kata dokter.

Saya pun meninggalkan rumah sakit Madinah. Entah apa nama rumah sakit itu. Badan masih sakit. Lemas. Saya dipapah Azrul dan Tatang. Sempoyongan. Tiba di lobi hotel perut saya bergejolak. Mungkin akibat zig-zag di dalam taksi. Tapi berhasil naik lift.

Tiba di lorong menuju kamar, tiba-tiba saya muntah. Luar biasa banyak. Di atas karpet yang empuk dan tebal. Seisi perut seperti tumpah semua. Muntah itu membuat saya merasa lega. Perut tidak lagi sesek. Saya bisa lebih mudah bernapas. Tidak harus lagi selalu dalam posisi menengadah.

Istri memandikan saya dengan sisa minyak kayu putih. Isna memberi saya minum air hangat. Habis muntah saya kian lemas. Tapi, saya bisa berbaring. Bisa bernapas dalam posisi berbaring. Saya tergolek di tempat tidur. Dada masih nyeri sekali. Punggung masih sakit sekali. Hanya perut tidak lagi sesak.

Sampai di sini fokus sakit saya masih di seputar pencernaan. Tidak ada kecurigaan ke yang lain. Apalagi, ke saluran darah utama yang robek. Saya terus terngiang kata-kata dokter: nanti akan sembuh sendiri. Berilah waktu pada pencernaan untuk bekerja secara alami. (*)

Tags: Catatan Dahlan Iskan
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Tambahan Penghasilan PNS Naik, Potongan Tinggi

Next Post

Status CPNSD Bisa Gugur Bila Tidak Disiplin

Related Posts

Sayap Ekonom
Catatan Dahlan Iskan

Sayap Ekonom

by Agung S Pambudi
Rabu, 30 Juli 2025 08:11

Oleh:Dahlan Iskan DALAM hidup saya ada dua Tionghoa terkenal yang sengaja tidak mau mengubah nama: Kwik Kian Gie dan Goh...

Read moreDetails

Copot Kursi

Penasihat Komisaris

Hakka

Untung Ada Komentar

Dosa Ultah

Ultah

Penyelamatan

Guo Nian

Andrian

Next Post
Status CPNSD Bisa Gugur Bila Tidak Disiplin

Status CPNSD Bisa Gugur Bila Tidak Disiplin

Pembangunan 1.000 Kios di Banten Lama Batal

Rp 100 Miliar untuk Normalisasi Kanal Banten Lama

Tiga Tipe Diabetes dan Cara Pencegahannya

Di Cilegon, Pengidap Diabetes Melitus Terbanyak adalah Perempuan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pertamina Perkuat Indonesia dalam Peta Motorsport Global Lewat Internasional GT World Challenge Asia 2026

Pertamina Perkuat Indonesia di Peta Motorsport Global Lewat Internasional GT World Challenge Asia 2026

Senin, 4 Mei 2026 18:39
Dugaan Suap PTSL Kabupaten Tangerang Jimmy Lie, Satgas PTSL Terima Uang Rp 80 Juta

Dugaan Suap PTSL Kabupaten Tangerang Jimmy Lie, Satgas PTSL Terima Uang Rp 80 Juta

Senin, 4 Mei 2026 17:42
Dindik Banten Siapkan Pra-SPMB, Pendaftaran Siswa Baru Dimulai 10 Juni

Dindik Banten Siapkan Pra-SPMB, Pendaftaran Siswa Baru Dimulai 10 Juni

Senin, 4 Mei 2026 17:32
Puluhan Mahasiswa Pandeglang Demo ke Pemprov Banten saat Hardiknas, Soroti Putus Sekolah

Puluhan Mahasiswa Pandeglang Demo ke Pemprov Banten saat Hardiknas, Soroti Putus Sekolah

Senin, 4 Mei 2026 17:24
Polisi Bongkar Peredaran Sabu di Tangerang

Polisi Bongkar Peredaran Sabu di Tangerang

Senin, 4 Mei 2026 17:15
Tanpa Tipping Fee, Proyek PSEL Tangsel Siap Dimulai Tahun Ini

Tanpa Tipping Fee, Proyek PSEL Tangsel Siap Dimulai Tahun Ini

Senin, 4 Mei 2026 17:07
Pertamina Perkuat Indonesia dalam Peta Motorsport Global Lewat Internasional GT World Challenge Asia 2026

Pertamina Perkuat Indonesia di Peta Motorsport Global Lewat Internasional GT World Challenge Asia 2026

Senin, 4 Mei 2026 18:39
Dugaan Suap PTSL Kabupaten Tangerang Jimmy Lie, Satgas PTSL Terima Uang Rp 80 Juta

Dugaan Suap PTSL Kabupaten Tangerang Jimmy Lie, Satgas PTSL Terima Uang Rp 80 Juta

Senin, 4 Mei 2026 17:42
Dindik Banten Siapkan Pra-SPMB, Pendaftaran Siswa Baru Dimulai 10 Juni

Dindik Banten Siapkan Pra-SPMB, Pendaftaran Siswa Baru Dimulai 10 Juni

Senin, 4 Mei 2026 17:32
Puluhan Mahasiswa Pandeglang Demo ke Pemprov Banten saat Hardiknas, Soroti Putus Sekolah

Puluhan Mahasiswa Pandeglang Demo ke Pemprov Banten saat Hardiknas, Soroti Putus Sekolah

Senin, 4 Mei 2026 17:24
Polisi Bongkar Peredaran Sabu di Tangerang

Polisi Bongkar Peredaran Sabu di Tangerang

Senin, 4 Mei 2026 17:15
Tanpa Tipping Fee, Proyek PSEL Tangsel Siap Dimulai Tahun Ini

Tanpa Tipping Fee, Proyek PSEL Tangsel Siap Dimulai Tahun Ini

Senin, 4 Mei 2026 17:07

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Pertamina Perkuat Indonesia dalam Peta Motorsport Global Lewat Internasional GT World Challenge Asia 2026

Pertamina Perkuat Indonesia di Peta Motorsport Global Lewat Internasional GT World Challenge Asia 2026

by Agung S Pambudi
Senin, 4 Mei 2026 18:39

MANDALIKA,RADARBANTEN.CO.ID–PT Pertamina (Persero) terus memperkuat peran Indonesia dalam ekosistem motorsport global melalui dukungannya di internasional GT World Challenge Asia 2026...

Dugaan Suap PTSL Kabupaten Tangerang Jimmy Lie, Satgas PTSL Terima Uang Rp 80 Juta

Dugaan Suap PTSL Kabupaten Tangerang Jimmy Lie, Satgas PTSL Terima Uang Rp 80 Juta

by Fahmi
Senin, 4 Mei 2026 17:42

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID - Anggota Satgas Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang, Iman Nugraha disebut menerima...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak