Nisa (34), bukan nama sebenarnya, memang bukanlah wanita biasa. Terlahir dari keluarga sederhana dengan kasih sayang orangtua, sudah membuat masa mudanya cukup bahagia. Ayah yang bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan swasta di Kota Serang, selalu mengajarkan pola hidup sederhana kepada seluruh anggota keluarga.
Dengan didorong kuatnya akan bimbingan tentang ketaatan beribadah, Nisa tumbuh menjadi wanita yang penuh keistimewaan. Selain cantik, sejak SD sampai lulus SMA, ia langganan meraih peringkat pertama dan mendapat berbagai penghargaan.
Nisa adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sang kakak sebenarnya menginginkan Nisa melanjutkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Namun karena masalah biaya dan ketidakminatan keluarga, Nisa tidak memanfaatkan jalur beasiswa. Ia justru melanjutkan sekolah agama di tempat pamannya mengajar.
Seolah sudah ditakdirkan Tuhan, di sanalah Nisa bertemu dengan jodohnya. Dua tahun mempelajari ilmu agama. Karena sikap lembut ditambah kepandaiannya mengaji, Nisa sempat menjadi incaran beberapa lelaki. Namun karena penjagaan ketat sang paman, akhirnya hanya lelaki pilihanlah yang bisa memiliki peluang mendapatkannya.
Merasa memiliki tanggung jawab, sang paman tak ingin sembarangan memilih calon pendamping hidup. Dengan rasa percaya diri, ia membawa seorang lelaki yang dikenalnya baik dan pandai mengaji, sebut saja Ocid (37). Lelaki yang senang memakai peci hitam ini kebetulan sedang mencari pasangan.
Pucuk dicinta ulam tiba, bagai merpati muda yang dipertemukan cinta, Nisa dan Ocid sama-sama menyimpan rasa. Tak lama setelah wisuda pesantren yang membuatnya semakin mantap mengarungi kejamnya dunia kerja, Ocid melamar Nisa dan bertemu calon mertua.
Meruntuhkan hati para lelaki pemuja rahasia sang wanita, Ocid percaya diri melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tak jauh berbeda dengan Nisa, Ocid adalah lelaki yang terlahir dari keluarga sederhana. Orangtua pedagang di salah satu pasar di Kota Serang, ia tumbuh menjadi lelaki yang baik dengan motivasi hidup nan tinggi.
Singkat cerita, pesta pernikahan pun terlaksana. Meski sederhana dan hanya mengundang teman serta sanak saudara, Ocid dan Nisa terlihat bahagia. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Kedua keluarga pun tampak saling menghargai satu sama lain.
Di awal pernikahan, Ocid bersikap penuh perhatian. Layaknya Romeo yang cinta mati pada Juliet, ia sangat lembut dan mengayomi Nisa. Maklumlah, mereka tinggal di rumah keluarga wanita. Jadi kalau tidak pandai-pandai mencuri hati keluarga, wah, bisa bahaya.
Hal serupa dilakukan Nisa. Seolah ingin menunjukkan bahwa sang suami tak salah memilihnya, setiap saat selama berada di rumah, Nisa menunjukkan kebolehannya dalam merias diri. Tak hanya itu, dengan sikap manja tapi mesra, ia sukses membuat Ocid betah di rumah.
“Syukur alhamdulillah, yang namanya istri harus pandai-pandai jaga perasaan suami,” kata Nisa. Wih, caranya bagaimana tuh Teh?
“Ya, pokoknya setiap dia pulang ke rumah, istri harus sudah tampil cantik, sediain makan dan bikin dia senang,” ungkapnya.
Hingga berjalan setahun usia pernikahan, Nisa melahirkan anak pertama. Bayi wanita cantik dan imut, menjadi pelengkap kesempurnaan rumah tangga. Ocid semakin sayang, keluarga pun dibuatnya senang. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.
Dengan kehadiran anak tercinta, tentu membuat kebutuhan ekonomi semakin bertambah. Ocid yang bekerja sebagai guru honorer, harus memutar otak mencari penghasilan lebih besar. Apalah daya, ia pun mencari pekerjaan ke rekan-rekan yang sudah lebih mapan.
Mencoba berbagai jenis pekerjaan mulai dari pegawai toko perabotan, sampai menjadi sales marketing sebuah perusahaan kecil, tampaknya Ocid tak juga menemui kecocokan. Di tengah kebimbangan mencari penghasilan tambahan, ia diterpa berbagai cobaan. Mulai dari tak bisa memberi makan anak istri, sampai digunjingkan tetangga dan mertua. Astaga.
“Iya, namanya rumah tangga, wajarlah hal kayak begitu mah. Saya sih yang penting Kang Ocid enggak menyerah,” tutur Nisa.
Hingga suatu hari, peristiwa memilukan itu terjadi. Ocid yang sore itu baru pulang mengajar, mendapati sang mertua hilir mudik di depan rumah. Ketika ditanya, tak ada jawaban darinya, hanya sorot mata jengkel yang terpancar. Memiliki firasat tak enak, ia lekas menemui sang istri.
“Waktu itu anak saya sakit, Kang. Badannya panas,” curhat Nisa.
Tak menunggu lama, ketika Ocid menampakkan diri, Nisa langsung meminta sang buah hati dibawa ke rumah sakit. Bagai orang tak berdaya, Ocid mengaku tak memegang uang sepeser pun. Hebatnya, di luar dugaan sang suami, Nisa malah mengangguk serta melembutkan suara, lalu mengulang perkataannya.
Ocad pun bergegas. Menyiapkan keperluan sang bayi dan ibunya, mereka melesat bagai kilat. Sesampainya di sana, sang dokter anak tersenyum ramah. Ia mengatakan bayi Ocad dan Nisa baik-baik saja. Hingga proses pengobatan selesai, sang dokter mengaku sahabat baik Nisa. Semua biaya pengobatan digratiskan.
Sesampainya di rumah, Ocid meminta maaf. Nisa tersenyum dan menguatkan suami untuk terus semangat mencari nafkah. Dalam situasi itu, seolah tak kuat menahan haru, Ocid memeluk sang istri. Diciumnya kening Nisa sambil memeluk erat sang anak. Subhanallah, lagi kekurangan begitu kok bisa mesra-mesraan sih, Teh?
“Kuncinya sabar, Kang. Gunanya istri itu buat menguatkan suami, bukan malah menekan di saat susah, apalagi sampai nambah beban,” tutur Nisa.
Masya Allah, semoga Teh Nisa dan Kang Ocid langgeng selamanya dan bisa hidup sejahtera. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)









