Oleh Prof Dr KH Fauzul Iman MA, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Ramadan yang kita nanti kini telah tiba kembali. Mari kita sambut Ramadan ini dengan sekata dan sehati. Jangan biarkan Ramadan bergulir menulusuri dan mengiringi zaman berganti. Sementara umat msnusia yang diperintah guna mengisinya dengn amal-amal abadi menjauh bagai langit dan bumi.
Padahal Nabi SAW dengan tegas mendeklarasi di sepuluh hari pertama sebagai bulan rahmat. Di sepuluh hari ke dua bulan ampunan dan di sepuluh hari ketiga merupkan bulan pembebasan dari api neraka. Sejatinya tiga momentum agung ini disikapi umat manusia dengan amalan konsisten yang tak pernah berubah di tempat dan lingkungan manapun.
Di sepuluh hari pertama amalan Ramadan berisi adaptasi melakoni kenyataan baru /pertama menahan lapar dan haus dengan penuh ketabahan. Di situasi ini pelaku puasa berupaya mengidentifikasi menggapai rahmat/kasih Tuhan berupa ketangguhan mental keperibadian menerima realitas beribadah puasa yang paling awal melelahkan di satu sisi dan menerima sifat Tuhan Yang Maha kasih dan bijaksana di sisi lain.
Di sepuluh hari ke dua amalan puasa merambah ke arah praksis. Amalan puasa tidak hanya salat berjamaah, tadarus zikir, tahmid , tahlil tetapi juga amalan yang mengandung aktifitas kemanusiaan . Amalan ini bisa berupa zakat dan santunan karitatif yang berbasis sosial ibadah seperti infak dan sedekah yang diberikan kepada kaum yang tidak mampu. Bisa juga amalan diarahkan pada bantuan pembangunan sarana ibadah, lembaga pendidikan dan bantuan beasiswa.
Di sepuluh hari ketiga pelaku puasa sejatinya sudah sampai pada puncak komitmen penyucian diri dari segenap cela dan dosa baik dosa yang bersekala remang – remang, yang kecil maupun odosa dosa yang bersekala besar. Komitmen ini agar benar-benar terpatri pada para pelaku puasa sehingga mereka tidak berupaya sedikitpun menggagalkan hasil amalan puasa ke dalam prilaku nihilisme yang bergelimng dengan dosa dosa barunya.
Para pelaku puasa yang telah menumpahkan gelora nafsu amalan puasa di bulan Ramadan dengan misi untuk membersihkan dari segala dosa dan angkara murka yang telah diperbuat sebelumnya adalh logis karena hadis Nabi seperti disebut di atas telah memotivisanya demikian. Tidak sedikit umat manusia berbasis motivasi hadis itu kemudian meyakini Ramadan adalah bulan satu- satunya yang pling suci dan sangat ampuh menghapus dosa-dosa manusia yang fokus menjalani amalan puasa.
Oleh karena itu tidak terlalu salah apabila ada banyak orang yang dahulunya berkarakter kikir, angkuh, pemarah, licik, dan korup karena termotivasi dengan hadis tersebut , di saat ramadan ini mereka berupaya dengan serius untuk meniti ke jalan suci dan mulia. Lalu mereka bertobat mulai rajin salat berjamaah dan tahajjud. Banyak mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Bahkan dijumpai beberapa pemgusaha yang mengundang wartawan tv untuk meliput kegiatannya yang paling tersohor yaitu membagi-bagikan zakat kepada kaum miskin yang telah diundang di kediamannya.
Para peniti jalan suci itu sunguh menjadi harapan umat kebanyakan yang amat berguna bagi menambah dan memperkuat SDM umat. Namun ironis kalau kemudian para peniti jalan suci itu hanya sebatas mampu merilis amaliah mulianya di bulan Ramadan. Sementara mereka dengan tenang lalu membiarkan Ramadan bergulir berganti zaman baru. Sayangnya seiring dengan zaman baru itu bukannya dengan konsisten menjalani jalan sucinya ke arah pembaharuan prilaku tetap justru mereka kembali kambuh ke habitat buruknya di sebelas bulan berikutnya.
Habitat buruk ini jelas sangat dikutuk Tuhan kerena berani mendaulat Tuhan dari satu ruang ke ruang Ramadan. Di ruang Ramadan inilah Tuhan didaulat dan disekap.dalam penjara Ramadan. Di ruang suci inilah seolah Tuhan disucikan, disembah dan dibesarkan untuk mndaptkn.ampunan dari segala angkara murkanya. Namun sebenarnya para habitat buruk itu telah memenjarakan Tuhan di bulan Ramadan karena di selain bulan itu mereka tidk lagi menemukan Tuhannya Yang Maha Besar. Sungguh ironis. Nauzubillah.









