Setiap orang pasti pernah marah dan setiap orang pula selalu punya peluang terpancing emosi, bahkan setiap hari. Namun, melampiaskan emosi tanpa waktu dan momen yang tepat, kadang tidak selalu menjadi solusi.
Banyak faktor seseorang terpancing emosi. Entah karena tuntutan pekerjaan, kondisi tubuh yang lelah, atau karena orang-orang di sekitar. Yuk disimak beberapa cara mengontrol emosi di bawah ini.
1. Buang Pikiran Buruk Jauh-jauh
Saat sedang dilanda masalah pelik, otak kita akan cenderung fokus memikirkan jalan keluar terbaiknya. Padahal tanpa disadari, terkadang bukan masalah yang mendorong munculnya reaksi negatif. Melainkan pikiran dan asumi buruk yang diciptakan sendiri.
Salah satu cara mengendalikan emosi bisa dilakukan dengan berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang terus menghantui. Jika sedang berada di keramaian atau di tengah rapat kantor, minta sedikit waktu menenangkan diri di tempat yang sepi dan nyaman. Mencari udara segar setidaknya dapat membantu untuk membangkitkan pikiran ke arah yang positif.
2. Hindari Langsung Meluapkan Reaksi Buruk
Berteriak, memaki, menangis, menjerit, bahkan menghancurkan benda yang ada di sekitar, sering kali dipilih sebagai bentuk luapan emosi yang sudah tidak dapat terbendung. Namun alangkah baiknya bila memikirkan matang-matang konsekuensi apa yang akan Anda terima dari perilaku ini.
Otak adalah salah satu bagian tubuh yang terlibat paling dominan saat sedang dirundung masalah. Di saat bersamaan, otak juga bisa kesulitan untuk membuat keputusan yang masuk akal ketika emosi sudah memuncak.
Sebab tidak menutup kemungkinan, masalah justru akan bertambah runyam karena reaksi cenderung berlebihan. Sebagai gantinya, coba tenangkan diri dengan menarik napas dalam lalu keluarkan secara perlahan. Lakukan teknik pernapasan ini selama beberapa menit, lalu rasakan sensasi nyaman yang berbeda dari sebelumnya.
3. Pancarkan Emosi Positif
Membiarkan diri terpuruk dalam emosi negatif yang membelenggu tentu tidak baik. Lebih baik cari jalan keluar yang justru bisa memunculkan aura positif.
4. Berlapang Dada
Setelah berjuang menghalau masalah yang kadang datang bertubi-tubi, kini saatnya bangkit untuk membuktikan kita baik-baik saja. Bukan berarti harus terus menutupi kesedihan yang ada. Hanya saja, tidak semua permasalahan harus ditunjukkan secara terang-terangan — terlebih ketika sedang berada di situasi yang mengharuskan kita tetap bersikap profesional. Kita perlu menerima dengan lapang dada bahwa ada beberapa hal yang tidak mungkin diubah.
5. Ketahui, Kitalah si Pemilik Emosi
Ingat emosi yang kita rasakan saat itu adalah milik kita dan setiap tindakan yang mengikutinya akan mewakili serta menggambarkan kita. Pahami juga kalau perlu menahan emosi itu demi diri kita, bukan demi siapapun. Kalaupun tetap harus mengingatkan seseorang atas kesalahan mereka, jangan lakukan kelewat batas, tetap tegas tapi tidak kasar.
6. Ceritakan Ulang
Oke, cobalah ceritakan kisah yang membuat emosi dan ketahui betul detail kisahnya. Emosi lahir dari pertemuan antara kejadian yang sebenarnya kita alami dan kisah kejadian tersebut yang terus-menerus kita ceritakan pada dirimu melalui sudut pandang kita sendiri. Kita perlu menceritakan ulang kisah tersebut secara runtut sedetail mungkin, agar bisa menyadari adanya kemungkinan sesuatu terlewat dari persepsi kita.
7. Tantang Diri Sendiri
Maksudnya tantang diri kita untuk menilai kisah yang membuat emosi tersebut, secara objektif. Melengkapi cara mengontrol emosi keenam, kita harus benar-benar objektif menilai kisah yang membuat emosi itu. Berusahalah mengingat lagi dengan baik bagaimana suasana saat itu, serta lingkungan di sekitar waktu itu.
8. Kelompokkan
Kalau sudah, coba kelompokkan kisah tersebut berdasarkan jenis peran kita di dalamnya dan pahami kisah jenis apa yang paling sering kita alami. Seperti kisah pada umumnya, kita perlu mengetahui peran setiap orang yang terlibat dalam kisah yang buat kita emosi itu. Ingatlah dengan betul tiap perkataan yang kita ucapkan, begitu juga ucapan orang lain saat kejadian itu. Posisikan diri sebagai penonton untuk bisa menilai dengan adil. Apakah ada ucapan atau tindakan kita yang menyakitkan? Siapa yang sebenarnya protagonis dan antagonis?
9. Ambil Pelajaran
Tentu dong, ambil pelajaran dari kisah yang membuat emosi itu, percayalah pasti ada yang bisa dipelajari. Siapapun peran kita dalam kisah yang membuat emosi itu atau apapun perasaan yang kita rasakan saat itu, kita perlu belajar dari itu. Belajar dari kejadian yang membuat emosi adalah cara terbaik agar tidak emosi lagi dalam hal yang sama di masa mendatang.
10. Cara Muslim
Bagi para muslim, sangat familiar untuk meredakan emosi. Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awud. Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.
Cara kedua, diam dan jaga lisan. Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.
Cara ketiga, mengambil posisi lebih rendah. Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Keempat, segera berwudhu atau mandi. Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Demikianlah tips-tips mengontrol emosi. Semoga bermanfaat. (Zee)









