Muda berdaya, yang muda yang berwirausaha. Sudah saatnya generasi muda membuka lapangan usaha sendiri daripada mengandalkan berkas lamaran pekerjaan yang tak kunjung mendapat jawaban.
Seperti yang dilakukan para anak muda Banten ini. Mereka menjalani usaha bukan sekadar sampingan melainkan pendalaman passion atau hobi. Bidang yang digeluti pun beragam.
Toang Isken Lazuardi, salah satunya. Ia adalah pendiri dan pemilik Oxza Media di Jalan Abdul Hadi, Kebonjahe, Kota Serang. Kata dia, dalam merintis usaha membutuhkan proses yang panjang. Berasal dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Toang awalnya adalah karyawan PT KS Cilegon pada 2011. Lelaki 26 tahun yang pernah kuliah di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Unikom, Bandung ini akhirnya resign dan memberanikan membuka usaha dengan modal di bawah Rp200.000.
“Saya datang ke Serang lumayan berdarah-darah untuk memulai usaha. Pada 2013 mulai bangun usaha Oxza Media yang awalnya berbasis fotografi. Setelah berjalan setahun dengan sewa ruko kecil sambil ngutang sana sini, akhirnya pindah lokasi. Saya merekrut teman-teman. Pada 2014 jadi perusahaan dengan CV Oxza Media Kreatif. Dibagi tiga divisi, yakni advertising cetak-mencetak, multimedia yang menangani wedding, event pemerintahan, mencakup digital agency juga membantu sistem digitalisasi produk dan packaging, serta menangani konveksi dan sablon,” jelas Toang saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/2).
Cerita pilu jatuh bangun membangun usaha diungkapkan Toang. “Selama dua tahun saya jalan kaki, ini real true story. Sekarang mungkin ada yang melihat kok saya sudah enak, padahal selama dua tahun saya kumpulkan database nama-nama perusahaan dengan jalan kaki dari Merak sampai Anyar,” jelas Toang.
Toang bilang, selama mengumpulkan database sempat dikejar anjing, diadang satpam, dan kehujanan. Ia sempat pesimistis. Namun, ia tetap jalani dan akhirnya bisa sukses seperti ini. “Dalam menjalankan usaha, terlalu idealisme juga sangat berisiko. Secara faktor experience di bidang bisnis belum begitu banyak. Baiknya, berpikiran apakah produk yang dipasarkan atau dibuat bakal diserap orang atau enggak, jasa lo bakal dipakai orang apa enggak,” tukas kelahiran 1 Juli 1993 penggemar fotografi.
Ditanya tentang bisnis apa yang baik pada saat ini? Ia menjawab, apa pun terbuka dan bisa menjadi peluang usaha. “Lebih enak berawal dari passion,” jelas anak kedua dari tiga bersaudara yang tinggal di Kompleks Permata, Kota Serang ini.
Sementara itu, pemilik Seblak Biang, Cecep Hidayat menceritakan, kesukesannya memiliki lima kedai seblak bukanlah simsalabim dalam semalam. Ia merintis usaha sejak Mei 2016, saat berusia 31 tahun. Seblak Biang yang pertama kali ada di Sodong, Saketi, ini kini sudah merambah ke Menes, Cikaduen, Labuan, dan Rangkasbitung.
“Memulai usaha seblak ini latar belakangnya karena hobi masak. Saat itu saya masih mengajar di SMK Ar-Ridho Saketi sebagai guru kewirausahaan. Dukanya merintis usaha, saat itu belum punya apa-apa dan mulai dari nol. Sambil mengajar sambil dagang. Pagi-pagi sebelum ke sekolah, ke pasar dulu beli bahan untuk seblak. Pulang sekolah jualan seblak. Alhamdulillah, omzet dari hari ke hari perkembangannya bagus,” jelas Cecep yang dihubungi melalui WA call, Jumat (15/2) siang ini.
Modal awal Cecep waktu itu Rp3 juta. Namun, saat ini per cabang dalam sehari menghasilkan omzet Rp2 juta. “Kesulitannya ada saja karena resep bumbu masak dari rumah. Semua karyawan, pagi-pagi kumpul di rumah, setelah beres persiapan, berangkat ke masing-masing cabang. Tapi sukanya dari usaha ini, banyak ABG-ABG cewek cantik yang nongkrong,” Cecep berkelakar.

Bedanya Seblak Biang dengan yang lain, kata Cecep, ada kuahnya. Racikan cabainya memakai cabai alami dan segar yang didapat dari petani sekitar. Pengunjung bebas menggunakan topping ada sosis, bakso, ceker, seafood, dan bakso super.
Begitu juga yang dilakukan Ganesha Anugrah Effendi dan suaminya Reza Rizky Afandi. Mereka memutuskan menjadi entrepreneur karena jenuh menjadi karyawan. Owner Roti Papa John di Jalan SA Tirtayasa, Kota Serang, ini mengatakan, bosan dengan rutinitas berulang yang gitu-gitu aja.
Ganesha mengatakan, ia dan suaminya resign dari pekerjaan di Jakarta lalu pulang ke Serang. “Nah, sampai di sini kita bimbang, mau kerja lagi atau benar-benar nekatin untuk usaha. Tapi, akhirnya kita memberanikan diri untuk usaha,” tutur lulusan Fashion Design Esmod Jakarta saat ditemui di Kedai Roti Papa John, Rabu (13/2) siang.
Kata dia, awalnya pada 2017 sempat terlintas ingin membuka usaha jajanan. Namun, belum tahu mau roti atau yang lainnya. Setelah dipikir-pikir menunya, mereka mencari camilan yang pagi, siang, sore malam masih enak untuk disantap. Akhirnya Ganesha dan suaminya memutuskan roti panggang.
“Aku melihat Serang ini potensinya besar. Aku ingin lebih tenang karena di Jakarta sudah jenuh dengan hiruk-pikuk keramaian Kota Jakarta. Aku merasa lebih enak untuk tinggal di sini,” lanjut Ganesha,
Walaupun lulusan Esmod Fashion Design and Business School Jakarta Jurusan fashion design dan suami lulusan hukum Unpad, tidak membuat Ganesha dan suami khawatir untuk terjun ke dunia bisnis kuliner. Ganesha membocorkan motivator terbesarnya, yakni orangtua, walaupun dua-duanya sudah almarhum. “Sekarang usaha aku insya Allah lagi proses buka cabang masih di Kota Serang,” tukas perempuan 30 tahun yang tinggal di Grand Serang Asri, Cipocokjaya, Kota Serang ini.
Hal serupa dilakukan Nur Agis Aulia. Kelahiran Serang 21 April 1989 ini menekuni usaha peternakan yang dinamai Jawara Farm sejak 2013. Usaha ini ia jalankan pertama kali saat pulang ke Banten dan melihat banyak potensi yang belum dimaksimalkan. Lalu, muncullah ide Jawara Farm yang merupakan usaha di bidang penggemukan kambing, domba, sapi, kemudian ada akikah, hewan kurban juga terdapat beberapa susu seperti susu murni, susu kambing, susu sapi. Lulusan terbaik PSDK Fisipol UGM cumlaude ini mengaku banyak potensi yang dapat dikembangkan dari sektor pertanian dan peternakan.
“Sebagian anak muda tidak mau jadi petani atau peternak karena tidak menjanjikan dan saya juga merasakan betul pada 2013. Memang berat tantangan pertama itu mengenai pasar, lalu kesejahteraannya. Setelah saya melihat peluang pertanian dan peternakan tinggal diatur, dipola bagaimana caranya berjalan dengan baik, dan terarah ke depannya,” ucap Pemuda Pelopor 2016 ini saat ditemui di kantor Jawara Farm, Kaujon, Kota Serang, Kamis (14/2).
Bisnis model Jawara Farm merupakan bisnis agro yang mempunyai penghasilan harian dari susu kambing, susu sapi, dan susu murni. “Sementara penghasilan mingguan dan bulanannya adalah dari aqiqah dan tahunannya dari kurban,” tutur nomine Kick Andi Young Heroes 2016 ini.
Sebelum mendirikan Jawara Farm, lelaki yang tinggal di Asam Gede, Cimuncang, Kota Serang, ini bekerja di BUMN. Namun, tidak lama ia mengundurkan diri dan ingin fokus dengan usaha brand miliknya sendiri.
Duta Petani Muda Indonesia 2018 ini mengaku, model konsep yang dikembangkannya dan diapresiasi tingkat lokal, dan nasional. Menurutnya, hampir dari seluruh Indonesia pernah belajar ke sini, terakhir dari Atambua, NTT dan dari Malaysia. Ia berinisiasi mendirikan agropereneur center untuk memberikan pendampingan pada anak muda yang ingin bisnis di bidang agro.
Mengenai modal usaha Agis mengaku awalnya dari tabungan beasiswa. “Alhamdulillah, di UGM itu gratis full dari kuliah, tempat tinggal, bahkan uang saku. Saya juga pengurus dari koperasi mahasiswa UGM, dapat SHU (sisa hasil usaha). Dari sana terkumpul Rp24 juta. Itu adalah modal pertama saya. Siklus pertama gagal, siklus kedua gagal, lalu kemudian saya menemukan polanya dengan pola menanam,” jelas Agis lagi.
Sebenarnya, kata Agis, anak muda zaman sekarang tidak perlu lagi takut soal modal karena ada yang crowdfunding yang tanpa tanggungan dan tanpa jaminan. Banyak pula bantuan modal dari lembaga atau pemerintah jika mau ditelusuri.
Modal lainnya, kata Agis, jaringan pertemanan. “Saya tidak pernah mengkhianati teman, jadi modal saya juga ada bersama teman-teman seperti Rp5 juta, Rp10 juta, akhirnya terkumpul untuk membangun usaha Jawara Farm ini,” lanjut Agis. (haikal-hellen zetizen-zee/alt/dwi)










