Bagi Een (37) nama samaran, berstatus janda harus cantik dan kaya agar tidak direndahkan orang. Hal itu ia buktikan, Een yang sukses dalam usahanya berjualan perabotan rumah tangga. Sempat dikhianati mantan suaminya, sebut saja Jaja (38) yang selingkuh dengan teman kerja, tak perlu lama bagi Een untuk mencari penggantinya yang lebih muda dan masih bujangan.
Ditemui Radar Banten di toko perabotannya di Pasar Anyer, paras Een cukup menawan dengan gamis cokelat berbahan katun yang dikenakannya, begitu elegan. Dari bincang-bincang kecil, Een akhirnya mau membeberkan kisah pahit yang dialaminya dalam berumah tangga bersama mantan suami. Prahara rumah tangga itu yang terjadi sekira sepuluh tahun lalu itu, masih membekas dibenak Een. “Kadang suka keinget-inget saja, maklum banyak kenangan,” akunya. Sudah mbak, move on aja.
Perjumpaannya dengan Jaja bermula saat masing-masing pulang kerja di gerbang pabrik. Kebetulan keduanya sama-sama karyawan pabrik cukup ternama di Cilegon. Saat itu Jaja mendorong motor Een yang kehabisan bensin. “Dia bantu dorong motor saya dari belakang. Padahal waktu itu kita belum kenal,” ujarnya. Biasa itu modus Mbak.
Setelah sampai di tempat pengisian bensin, Jaja langsung mengajak kenalan. Een pun menanggapinya yang awalnya sebagai tanda ucapan terima kasih dan bertukar nomor ponsel. Sejak itu, keduanya jadi sering berkirim pesan singkat sampai teleponan. Tidak perlu lama bagi mereka untuk menjalin keakraban. Sampai akhirnya, rayuan gombal Jaja mampu menaklukan hati sang dara. Bagaimana tidak terlena, Jaja selama melakukan pendekatan hampir setiap akhir pekan mengajak Een jalan-jalan ke mal berbelanja, membelikan Een barang-barang mewah dan mahal, dari mulai pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya. Kondisi itu pun tentu saja membuat Een nyaman. “Ya dia orangnya enggak pelit, ngobrolnya juga enggak ngebosenin gitu,” aku Een. Matrealistis kali.
Een mengaku suka pada pandangan pertama kerena wajah Jaja yang cukup tampan, dengan sedikit janggut yang menambah kesan macho di mata Een. Penampilan Jaja juga selalu modis. “Dia kelihatannya dewasa banget,” ujarnya.
Jaja terus menunjukkan perhatian terhadap Een hingga membuat sang betina jatuh cinta. Sebulan kemudian mereka menjalin hubungan. Tiga bulan menjalani masa pacaran, keduanya Een dan Jaja pun sepakat menjalin hubungan ke arah lebih serius. Sampai akhrinya, mereka menikah dengan pesta cukup meriah. Een sampai rela menguras tabungannya demi hari kebahagiaan bersama Jaja. “Ya kan waktu itu prinsipnya pernikahan itu sekali sumur hidup. Eh tahunya malah berantakan,” sesalnya. Enggak usah disesali lagi Mbak, kan sudah dapat yang muda.
Mengawali rumah tangga, Jaja mengajak Een sementara tinggal di rumah keluarganya. Setahun kemudian Een dan Jaja dikaruniai anak pertama yang membuat kehidupan rumah tangga mereka semakin berwarna. Namun, pada usia dua tahun pernikahan, Jaja mulai cuek dan sering uring-uringan, sering marah-marah enggak jelas yang membuat Een tak betah di rumah. Kondisi itu memaksa Een memilih jalan-jalan ke mal bersama teman kerja setiap liburan. Suasana rumah tangga Een dan Jaja pun semakin hari semakin tak harmonis, dua-duanya tak mau mengalah, sama-sama keras kepala. Hingga akhirnya Jaja mendatangi Een membawa surat cerai. “Saya langsung setuju aja. Hari itu juga saya pulang ke rumah orangtua. Sakit hati dicerai tanpa alasan jelas,” keluhnya. Makanya jangan egois, harusnya cari tahu dulu apa masalahnya.
Siapa sangka, sebulan pasca perceraian Jaja menikah lagi dengan rekan kerja Een, sebut saja Esih yang memang memiliki paras lebih manis dan bodi aduhai. Een merasa ditusuk dari belakang karena Esih teman curhatnya di pabrik. “Saya tahu dia (Esih-red) cuman mau manfaatin duitnya doang, bodoh saja Kang Jaja itu, kesel saya,” kesalnya. Jangan suudzon dulu Mbak.
Een tak mau berlama-lama memendam luka dan mulai melupakan semua kenangan bersama Jaja dengan keluar dari tempatnya bekerja. Een memilih banting setir menjadi pengusaha dan membeli ruko di Pasar Anyar. “Awalnya saya jual pakaian, tapi enggak laku, sempat rugi belasan juta, dihina tetangga dan dibilang janda melarat,” tukasnya. Sabar, itu cobaan.
Menyadari tidak ada perubahan pada usaha pakaian, Een beralih usaha berjualan perabotan rumah tangga, seperti alat memasak, sapu, tempat sampah, bak mandi, dan perabotan lainnya. Een pun menikmati profesi barunya itu. “Mulai dari untung Rp15 ribu sampai sekarang sudah sepuluh juta per bulan,” ungkapnya. Buah dari kesabaran itu Mbak.
Setahun kemudian, usaha Een semakin matang dan mampu merekrut tiga karyawan. Empat tahun kemudian ia mampu membeli rumah dan mobil pribadi. “Alhamdulillah, semua orang yang dulu hina saya sekarang malah sok baik ke saya,” ucapnya. Makanya banyakin uang Mbak nanti juga banyak saudara.
Sebulan lalu Een pun menemukan jodohnya, bertunangan dengan pria muda dan masih bujangan yang merupakan karyawannya. “Setelah lebaran nanti kami akan menikah. Ya saya enggak butuh lelaki kaya, yang penting tulus ikhlas setia hidup bersama,” tandasnya.
Syukur deh Mbak, moga langgeng ya. Amin (mg06/zai)








