TANGERANG – Menjadi ibukota kecamatan, Desa Solear terkenal dengan potensi wisata religinya yakni makam keramat Solear yang ramai dikunjungi penziarah dari berbagai daerah. Untuk itu kini Pemerintah Desa Solear terus melakukan penataan dan pengelolaan tempat tersebut untuk dijadikan destinasi wisata daerah dan bisa meningkatkan perekonomian warga.
Hal itu dikatakan Penjabat sementara (Pjs) Kepala Desa Solear Muhamad Tusri Darjat saat ditemui di kantornya belum lama ini. Dia menceritakan makam keramat yang menjadi wisata religi itu merupakan makam salah satu pejuang penyebar agama Islam di Banten. “Betul, di lokasi itu ada makam Mbah Syekh Mas Mas’ad yang sudah ramai dikunjungi penziarah dari berbagai daerah sekira tahun 2000 lalu. Dan lokasi makam berada di hutan lindung Kampung Solear Kramat RT 02 RW 04, seluas empat hektare,” katanya, Kamis (19/9).
Di dalam hutan lindung tersebut, lanjut Tusri, ada ratusan kera yang menjadi daya tarik lain di tempat ini. Mereka yang berziarah juga bisa memberikan makanan langsung pada kera-kera yang hidup di area makam. “Meskipun kera liar, tetapi sudah jinak, jadi aman buat para peziarah. Uniknya, ratusan kera tersebut bahkan bisa mencerminkan perilaku peziarah yang datang. Kalau yang suka mabuk, maka kera tersebut akan bertingkah seperti orang mabuk dihadapan peziarahnya,” tuturnya.
Ditambahkannya adanya wisata religi tersebut, pihaknya berharap dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar. Dimana sejumlah warga membuka warung dan mengelola lahan parkir. Bahkan makam keramat Solear biasa ramai dikunjungi setiap peringatan hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha. “Momen itulah warga banyak yang membuka warung. Sedangkan parkir dikelola anak-anak karang taruna. Sementara kalau hari biasa, ramai penziarah setiap hari libur saja,” tambahnya.
Selain wisata religi, desa yang memiliki jumlah penduduk 10.628 jiwa itu juga terdapat embung penampungan air di Kampung Tangkelek RT 01 RW 03 yang dapat dijadikan wisata air seperti pemancingan hingga taman rekreasi bermain. Bahkan saat ini sudah dimanfaatkan warga untuk budidaya ikan dengan jaring apung sejak 2007 lalu.
Sedangkan soal pembangunan infrastruktur fisik, Tusri mengaku, saat ini diperkirakan sudah mencapai 80 persen. Dia mengklaim pembangunan infrastruktur tahun ini ada 11 titik dan masuk tahap II. Untuk enam titik sedang berjalan yakni jalan lingkungan dengan pavingblock, betonisasi dan saluran pembuangan air limbah (SPAL). Sementara tahap III akan berlangsung pada Oktober-November. “Kami berupaya untuk memanfaatkan sebaik-baiknya anggaran yang ada untuk membangun desa,” tutupnya. (pem/rb/adm)









