TANGERANG– Renovasi Kantor Desa Pasarkemis menjadi program prioritas tahun ini. Proyek yang dimulai sejak Desember 2018 itu dilaksanakan bertahap. Untuk merampungkannya tahun ini, pemerintah desa masih butuh anggaran Rp850 juta.
Kepala Desa Pasarkemis Alhaetomy mengatakan, penganggaran renovasi kantor desanya dimulai 2018. Saat itu, program ini hanya kebagian anggaran Rp350 juta. Ini penyebab renovasi kantor desa tidak bisa diselesaikan.
Pemerintah desa butuh dana total Rp1,2 miliar. Pasalnya, Kantor Desa Pasarkemis dirancang layaknya kantor kelurahan, memiliki dua lantai. ”Di tahun 2019, saya akan fokuskan untuk melanjutkan renovasi kantor desa. Bangunannya akan saya tingkat menjadi dua lantai. Nanti, tampilannya mengikuti zaman dengan model minimalis. Dan setelah dihitung-hitung oleh tenaga arsitektur, semuanya akan membutuhkan dana sekitar 1,2 M (rupiah-red). Itu sifatnya bertahap,” jelas kepala desa yang biasa disapa Tomy itu kepada Tim Saba Desa Radar Banten.
Beberapa program Pemerintah Desa Pasarkemis yang telah direalisasikan tahun 2018, antara lain, pembangunan Posyandu, pembelian kendaraan operasional desa, penamaan jalan di lingkungan perumahan, pemberdayaan budi daya jangkrik dan bebek, serta penyertaan modal badan usaha milik desa (BUMDes). Tahun ini, Pemerintah Desa Pasarkemis kembali mengalokasikan anggaran penyertaan modal bagi BUMDes.
Tomy berharap, masyarakat Pasarkemis mendukung program-program yang digulirkan pemerintah desa. Sehingga diharapkan, desa seluas 167 hektare dan dengan penduduk sekira 20.000 jiwa ini bisa menjadi desa maju dan mandiri. Serta, bisa menghasilkan pendapatan asli desa mencapai Rp10 miliar per bulan. Pendapatan asli desa ini menjadi cita-cita Tomy.
”Kami mohon doa serta dukungan masyarakat Desa Pasarkemis, supaya desa ini bisa mengikuti jejak desa-desa yang berkategori desa maju, seperti yang pernah kami kunjungi dalam kegiatan observasi di daerah Jawa Tengah. Desa-desa di sana bisa menghasilkan pendapatan asli desa sebesar Rp10 miliar dan mampu membiayai warganya mengejar pendidikan hingga tingkat sarjana,” harapnya.
Sekretaris Desa Pasarkemis Jamaludin menambahkan, kepengurusan BUMDes masih dalam penyusunan. Rencananya, BUMDes ini akan bergerak di bidang jasa pengiriman barang atau ekspedisi. Keuntungan hasil usaha ini akan dialokasikan untuk bantuan modal dan peralatan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Desa Pasarkemis.
”Pengurusnya (BUMDes-red) masih disusun, baru ketua, wakil, sekretaris. Kebetulan datanya masih di ketua, belum diserahkan ke desa,” ujarnya.
Jasa pengiriman menjadi bisnis BUMDes, jelas Jamaludin, lantaran beberapa UMKM, seperti pembuatan bantal dan boneka, sangat membutuhkan jasa ekspedisi. Produk rumahan bantal dan boneka ini juga diproyeksikan menjadi produk unggulan Desa Pasarkemis.
Soal keuntungan BUMDes untuk permodalan dan peralatan UMKM, mengingat pemasaran produk UMKM di desa ini sedikit tersendat. Pemerintah Desa Pasarkemis melihat, penyebab kendala pemasaran itu lantaran modal dan peralatan produksi yang terbatas.
”Pengerjaannya (bantal dan boneka-red) sudah berlangsung di beberapa rumah warga. Ya, tapi pembuatannya terbatas karena terhambat modal dan juga mesinnya. Kan baru sedikit mesinnya.” jelas Jamaludin. (pem/rb/sub)










