TANGERANG – Desa Gandaria tak lagi menyandang predikat desa tertinggal. Desa di Kecamatan Mekarbaru ini tengah menata diri menuju desa sejahtera. Cita-cita ini disampaikan oleh Kepala Desa Gandaria Sukarni pada Jumat (19/4) lalu.
Kepala desa yang lebih akrab disapa Karni itu mengakui bahwa perubahan status desanya itu terjadi setelah pemerintah pusat mengucurkan Dana Desa. Dengan dana ini, infrastruktur dan sarana prasarana masyarakat lainnya dibangun dan ditata. Sampai saat ini, menurutnya, pembangunan fisik yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Gandaria mencapai 60 persen.
”Kalau jalan-jalan di desa kami, baik hotmix maupun betonisasi atau paving block di kampung-kampung, alhamdulillah sudah hampir selesai. Dan mudah-mudahan, tahun 2019 ini, semuanya (infrastruktur jalan di Desa Gandaria-red) bisa terealisasi secara maksimal,” harap Karni kepada Tim Saba Desa Radar Banten.
”Tempat-tempat yang dulunya kumuh, kampung-kampung yang dulu tidak terawat, saluran air yang acak-acakan, alhamdulillah sudah banyak ditata. Kini, kita sedang menatap menuju desa sejahtera,” tegasnya.
Luas desa ini 217,6 hektare. Jumlah penduduknya ada 5.432 jiwa, terdiri dari 2.618 laki-laki dan 2.814 perempuan. Penduduk desa ini tersebar di empat rukun warga (RW) dan 21 rukun tetangga (RT). Profesinya, mayoritas adalah petani.
”Sementara ini, petani di desa kami membeli pupuk ketika mau mulai tanam dengan harga yang tinggi. Nah, kami berencana untuk membuat program ke arah itu, supaya masyarakat petani ini meminjam pupuk atau bibit ke kami (Pemerintah Desa Gandaria melalui badan usaha milik desa/BUMDes-red). Kami akan buat BUMDes untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh para petani,” ungkap Karni.
Karni juga menyampaikan wacana program pemerintahannya di bidang perekonomian. Yakni, pengembangan pasar desa. Salah satu potensi desa ini berada di Kampung Gandaria Klebet.
”Alhamdulillah, di desa kami ada potensi desa, yaitu pasar. Nah, pasar di desa kami sebetulnya sudah lama ada. Namun, keadaannya masih gitu-gitu saja. Pasarnya masih pasar mingguan, yaitu setiap hari Jumat. Pedagangnya masih belum tertib. Banyak yang berjualan di pinggir jalan,” tuturnya.
Karni mengakui, kondisi itu akibat kapasitas Pasar Desa Gandaria hanya bisa menampung sekira 50 pedagang. Dampaknya, puluhan pedagang lainnya menggelar lapak di pinggir jalan. Untuk menata dan mengembangkan pasar desa ini, Karni tidak menampik jika Pemerintah Desa Gandaria cukup kesulitan.
”Enggak mungkin (pedagang-red) kita tertibkan secara paksa. Kan kasihan. Kami berharap, pasar desa ini bisa kami kelola. Inginnya, punya lokasi baru untuk pasar yang dapat menampung semua pedagang, karena pasar ini merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat Gandaria maupun masyarakat lainnya,” papar Karni.
Untuk merealisasikan wacana tersebut, menurut Karni, adalah dengan merelokasi Pasar Desa Gandaria. Hanya saja, ia mengaku, pemerintah desa belum menemukan harga tanah yang sesuai dengan kekuatan anggaran desa dan lokasi strategis. ”Beli tanah itu kan cukup mahal. Dana Desa ini kan punya aturan atau batasan anggaran,” katanya. (pem/rb/sub)









