CILEGON – Penderita stroke di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon cukup tinggi. Dalam sebulan, layanan kesehatan bisa mencapai 226. Bahkan sejak Januari hingga September tercatat 1.506 layanan penderita stroke di rumah sakit tersebut.
Kemarin, Selasa (29/10) jajaran manajemen bersama sejumlah masyarakat di Kota Cilegon memeringati Hari Stroke Sedunia. Dalam kesempatan itu, masyarakat mempelajari segala hal tentang penyakit yang bisa menyebabkan kematian tersebut.
Dokter Spesialis Saraf RSUD Kota Cilegon dr Milda Ariyani SPS menjelaskan, kunjungan penderita stroke di RSUD Kota Cilegon masuk dalam kategori tinggi. Hal serupa pun terjadi di daerah lain, bahkan di dunia.
Berdasarkan data dari Yayasan World Stroke Day di Amerika, satu dari empat orang penduduk menderita stroke. “Kita prihatin, kok banyak banget, di Kota Cilegon pun banyak,” ujar Milda, Selasa (29/10).
Dijelaskan Milda, stroke masuk ke dalam kategori penyakit berbahaya. Akibat penyakit itu, para penderita bisa mengalami kelumpuhan, kehilangan kesadaran, hingga kematian. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan penyakit tersebut, pertama adalah hipertensi, kemudian diabetes, dan kolesterol.
Kendati penyakit itu berbahaya, namun kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan masih cukup rendah. Padahal, pengetahuan tentang stroke sendiri sudah banyak diketahui oleh masyarakat. “Sekarang masih cenderung untuk mengobati, bukan mencegah,” tuturnya.
Padahal, lanjut Milda, untuk mencegah penyakit itu, masyarakat cukup melakukan kebiasaan hidup sehat seperti olahraga, serta memastikan tekanan darah dan gula darah dalam keadaan normal.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD Kota Cilegon dr Hana Johan menjelaskan, stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi syaraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak. Gangguan syaraf itu menimbulkan gejala seperti kelumpuhan wajah atau anggota badan, tidak lancar berbicara, tidak jelas berbicara, perubahan kesadaran, gangguan penglihatan, dan sejumlah gejala lainnya. “Perlu diketahui, stroke adalah penyebab disabilitas nomor satu dan penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung iskemik,” tuturnya.
Di Indonesia, lanjut Hana Johan, stroke adalah penyebab kematian dan kecacatan nomor satu, dan dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia. Dia mengajak masyarakat untuk mulai melakukan upaya pencegahan sejak dini. Salah satunya dengan menjalani pola hidup sehat dan bugar. “Hampir seperempat kasus stroke berkaitan dengan pola diet yang tidak sehat, terutama konsumsi sayur dan buah yang sedikit,” tuturnya. (bam/ibm/ags)









