SERANG – Mardjuki (55), dan Yanti Daryanti (44), disergap polisi, Minggu (1/3) malam. Keduanya digerebek di dalam asrama Perum Perhutani di Jalan Raya Cilegon KM 8, Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Duda dan janda itu diamankan atas tuduhan kepemilikan sabu-sabu.
Keduanya digerebek sekira pukul 22.00 WIB. Mardjuki dikabarkan kerap mengundang rekannya datang ke rumah dinas yang ditempatinya untuk pesta narkoba. Petugas Subdit III Ditresnarkoba Polda Banten melakukan pengintaian.
Petugas kemudian menggerebek rumah yang ditempati oleh oknum pegawai Perum Perhutani itu. Selain Mardjuki, polisi mendapati Yanti di dalam rumah. Diduga, keduanya usai mengadakan pesta sabu-sabu. Dua paket sedang sabu-sabu dan tiga paket kecil sabu-sabu ditemukan polisi dari bungkus plastik warna merah.
“Sabu-sabu tersebut ditemukan di lantai kamar. Ada satu bungkus yang sudah terbuka. Kemungkinan bekas pemakaian. Untuk total sabunya sekitar 0,86 gram,” kata sumber Radar Banten di lingkungan Ditresnarkoba Polda Banten, Senin (2/3).
Selain lima paket sabu-sabu, polisi menemukan dua korek gas, satu alat isab sabu atau bong, dan dua unit ponsel milik kedua pelaku. “Semua barang bukti sudah diamankan dari lokasi. Saat ini masih dalam proses pemeriksaan,” katanya.
Direktur Reserse Narkoba (Dir Resnarkoba) Polda Banten Komisaris Besar (Kombes) Pol Yohanes Hernowo mengaku masih mendalami kasus narkoba tersebut. “Iya benar ada pengungkapan tersebut. Saat ini masih pengembangan,” kata Yohanes melalui WhatsApp.
Ketua Asrama Perhutani Edwin mengaku tidak mengetahui penggeberekan. “Memang ada nama Pak Mardjuki (pegawai Perhutani-red), tapi saya takut salah. Khawatir bukan Pak Mardjuki yang dimaksud,” kata Edwin.
Sementara Kepala Desa Pejaten Ahmad Rofei mengaku tidak mengetahui penggerebekan. “Saya baru tahu informasinya. Biasanya kalau ada pengungkapan kasus ada pendampingan, ini belum ada,” kata Rofei.
Kata Rofei, penghuni asrama Perhutani mayoritas pendatang. Mereka juga kurang bersosialisasi dengan warga. “Dengan masyarakat agak kurang membaur. Saya juga tidak tahu di sana (asrama-red) orang mana, karena kebanyakan orang pendatang,” tutur Rofei. (mg05/nda/ags)









