SERANG – Kecelakaan lalu lintas hampir tiap hari terjadi di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meminimalkan angka kecelakaan di jalan raya.
Untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas, Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta didukung pemerintah pusat, telah berhasil membuat alat pengendali kecepatan kendaraan, yaitu Speed Limiter Itegrated Fatigue Analyzer (SLIFA) sejak 2017.
Tim Fakukltas Teknik UMB Jakarta memperkenalkan temuannya di Kota Serang. Inovator SLIFA, Hadi Pranoto mengungkapkan, alat yang diciptakan UMB tersebut merupakan solusi untuk mengurangi angka kecelakaan pada kendaraan besar.
“SLIFA adalah alat inovasi untuk menghindari kecelakaan saat sopir mengantuk, keunggulan atau keuntungan alat ini yaitu kecepatan kendaran bisa disetel/dikunci dari 0,5 -80 km/jam, lalu pemasangannya mudah di semua jenis mesin termasuk bensin dan diesel bagi truk dan bus,” kata Hadi saat sosialisasi dan dialog tentang hasil riset Kampus UMB di Rumah Kopi, Kota Serang, Jumat (6/3).
Hadi yang juga menjabat Wakil Dekan Inovasi dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik UMB menambahkan, SLIFA yang dibuatnya bersama tim dosen dan mahasiswa FT UMB merupakan alat yang berguna khususnya dalam membantu mengurangi kecelakaan lalulintas. “Problem kecelakaan lalulintas di dunia cukup mengerikan. Berdasarkan data World Health Oraganization (WHO) mencatat per 24 detik satu orang di dunia meninggal. Di Indonesia per 3 detik satu orang meninggal di jalan raya. Ini sangat berbahaya hampir menyamai angka kematian yang diakibatkan stroke,” tuturnya.
Sebelum membuat SLIFA, kata Hadi, pihaknya telah melakukan riset sejak 2015. Pada 2017 UMB berhasil membuat SLIFA yang kini telah digunakan oleh semua kendaraan milik Pertamina. “Alhamdulillah alat ciptaan UMB didukung oleh Kemenristekdikti. Kami mendapat bantuan anggaran sebesar satu miliar untuk pengembangan SLIFA selama tiga tahun,” tuturnya.
Saat ini, tambah Hadi, SLIFA sedang diujicoba oleh Trans Jakarta (busway). Ia berharap pemerintah daerah termasuk di Banten bisa menggunakan SLIFA untuk bus milik pemerintah daerah. “Pengembangan bisnis ke depan, kami ingin bekerjasama dengan perusahaan otomotif untuk menggunakan SLIFA. Sehingga alat ini bisa dibuat secara massal,” tuturnya.
Hingga 2020, alat SLIFA yang sudah digunakan lebih dari 300 unit oleh Pertamina. “Karena belum dibuat massal, harga satuan alat ini masih dikisaran Rp10 juta. Tapi kalau sudah dicetak massal bisa Rp1,5 jutaan per unitnya,” paparnya.
Ia memastikan, hasil temuan UMB ini ramah terhadap mesin dan ban kendaraan, serta SLIFA mudah dioperasikan. “Hasil laporan pemasangan SLIFA dari beberapa klasifikasi kecelakaan yang terdiri dari 51 kejadian ada yang sangat fantastis penurunan dapat mencapai 47 persen dari kejadian sebelumnya,” pungkasnya.
Dosen Jurusan Teknik Mesin UMB itu juga mengaku, alat ini untuk sementara diperuntukan bagi kendaraan angkutan massal dan truk. Namun ke depan, alat tersebut sedang dikembangkan agar berfungsi sebagai black box seperti layaknya di pesawat terbang. “Nanti kita buat fungsinya seperti black box, jadi semua jenis kendaraan bisa menggunakannya. Dengan begitu, alat ini akan merekam percakapan pengemudi sebelum terjadinya kecelakaan,” kata Hadi optimis.
Sementara praktisi IT dan Dosen Sistem Informatika Fakultas Komputer UMB, Abdi Wahab menambahkan, SLIFA sudah didukung oleh sistem yang terintegrasi dengan android yang terhubung ke dalam server. “Slifa ini dilengkapi alat pelacak atau GPS. Misalkan pemilik bus ingin melihat lokasi kendaraan, tinggal lihat di layar handphone. Dari layar ini juga ketahuan berapa kecepatan mobil dan posisi mobil. Intinya perusahaan bisa mengontrol anak buahnya yang sedang berkendara agar tidak berlebihan,” katanya.
Terkait jaringan server, Abdi mengaku Slifa memiliki slot kartu SIM sehingga memudahkan mengirim data. “Kita ada slot SIM card bisa pakai kartu Telkomsel. Dan jangan kahwatir kalau di daerah terpencil juga masih bisa memantau kendaraan. Dan data yang dikirim akan dikumpulkan dalam server di kampus,” katanya. (Deni S)











