RADARBANTEN.CO.ID – Binatang mamalia jenis Sugar Glider (Glide) kini menjadi trand binatang peliharaan di Indonesia. Di mana jenis binatang eksotis tersebut kini banyak dikembangbiakkan karena dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi, yakni mulai dari Rp 500 ribuan hingga Rp 100 juta per ekor.
Founder dari GLIDE Glider Lovers Indonesia D’Exotic, Rheva Cezzaldy menjelaskan, ketertarikannya pada satwa asal bumi Papua ini bermula sejak 2009 lalu. Saat itu, binatang mamalia tersebut belum booming seperti saat ini.
“Alasan saya memilih Sugar Glider sebagai binatang peliharaan karena mudah dirawat dan mudah dibawa kemana mana. Beda sama jenis binatang lainnya,” ujar Rheva Cezzaldy kepada Radar Banten, Selasa (11/4).
Rheva mengatakan, perawatan Sugar Glider tidak sulit. Di mana pemeliharaan cukup memberi pakan berupa buah dan serangga.
Selain itu, Sugar Glider termasuk jenis binatang yang mudah beradaptasi dengan manusia. Alhasil, binatang tersebut kerap dijadikan mainan hidup oleh masyarakat.
“Sugar Glider masuk dalam jenis hewan eksotis kalau tidak dipegang kembali liar dan galak,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, ia menganjurkan agar Sugar Glider sering diajak main oleh tuannya minimal 5-10 menit setiap hari.
Rheva menjelaskan, peminat Sugar Glider di Tangerang lumayan banyak. Tercatat ada 50 anggota aktif yang bergabung dalam komunitasnya. Bahkan, keberadaan komunitas tersebut sempat mendapat perhatian dari Walikota Tangerang Arief Wismansyah dengan mengadakan even kontes pada 2016 lalu.
Menurutnya, penyebab harga Sugar Glider mahal karena adanya mutasi genetik yang dialami binatang tersebut. Yakni semakin unik warna dan penampilannya maka semakin mahal.
“Banyak para peternak melakukan kawin silang agar mendapat hasil jenis yang baru,” tambahnya.
Untuk mengembangbiakan binatang tersebut, beberapa persiapan harus dilakukan peternak. Antara lain, mencari info perawatan dari komunitas maupun dari internet, kandang berukuran 30 x 40 cm, tempat tidur unik, dan pakan.
Khusus pakan, Sugar Glider yang diternakkan diberi pakan bubur bayi, serangga dan buah buahan. Di mana pemberian jam pakan dilakukan pada saat pagi dan malam hari.
“Sugar Glider yang dirawat dari bayi dapat dilatih agar menurut saat dipanggil dan mengikuti apa yang kita instruksikan. Caranya dengan membiasakan beradaptasi dengan bau badan kita,” imbuhnya.
“Sering sering ajak main di kasur agar cepat mengenal bau badan kita,” katanya.
Kalah oleh Predator Alami
Mudahnya Sugar Glider berinteraksi dengan manusia membuat satwa tersebut kehilangan insting liarnya. Hal itu berimbas pada sulitnya satwa tersebut bertahan hidup di alam saat dilepasliarkan.
“Sugar Glider kan satwa endekim Papua, mereka kita coba lepas liarkan dan kita amati ternyata kalah sama predator di alam karena sudah terbiasa ketergantungan sama manusia,” ujar Revha.
Agar kelestarian satwa tersebut terjaga, Revha bersama komunitas lainnya giat mengembangbiakan Sugar Glider agar jumlahnya terjaga di alam.(mg-03)









