TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Sejumlah tenaga honorer di Pemkot Tangsel sudah mulai mempersiapkan diri jika penghapusan honorer oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) pada November nanti terwujud.
Ada yang sudah mencari pekerjaan baru. Ada pula yang masih bingung mau kerja apa jika pekerjaan mereka dihilangkan.
Seorang tenaga honorer bernama Dzaky Humam Mutaqin mengatakan, ia telah mendengar adanya penghapusan honorer.
Oleh sebab itu, ia mengaku mulai mempersiapkan diri mencari pekerjaan baru.
Dzaky sendiri merupakan tenaga honorer yang bekerja sebagai staf di Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta) Tangsel.
“Saya udah tes di BUMN PT INKA, Madiun, prosesnya sedang berjalan, pengumumannya tanggal 3 Juli, sama nyoba-nyoba tes CPNS juga sih tahun ini,” ujar Dzaky kepada RADARBANTEN.CO.ID, Rabu, 21 Juni 2023.
Dzaky mengatakan, Agustus nanti, ia hendak menikah. Sehingga, ia berharap, terus mendapat penghasilan.
Itu sebabnya, ia terus berupaya agar tidak menganggur saat berumah tangga nanti.
“Saya mau nikah juga kan Agustus nanti, ya enggak mungkin juga kan kalau masih honorer, karena calon istri juga enggak kerja, di rumah aja,” ujar Dzaky yang tiap bulan menerima gaji Rp 3,2 juta dari Dinas Perkimta.
Valen, seorang tenaga honorer di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Tangsel, juga mengaku juga telah mempersiapkan diri.
Ia bahkan sudah memiliki bisnis sampingan sejak lima tahun lalu dengan mendirikan CV yang bergerak di bidang programer dan telah memiliki kantor di Taman Royal, Kota Tangerang.
Valen tidak cemas jika pekerjaannya dihapus.
“Saya menanggapinya santai aja, ngalir saja, apa yang terjadi nanti, bisa saya terima. Mungkin (jika honorer dihapus) saya akan membesarkan CV saya,” ujarnya.
Sementara itu, tenaga honorer di Dinas Pariwisata Tangsel bernama Rendi mengaku masih bingung mau melakukan apa jika honorer jadi dihapus oleh Pemerintah.
Rendi mengatakan, ia sendiri baru empat bulan bekerja sebagai honorer dan sudah lama menganggur usai diputus kontrak di pabrik.
“Belum tau nih mau kerja, bingung juga ya. Saya tau infonya di grup WhatsApp, ada yang men-share November itu penghapusan honorer, saya pikir ah, humor aja itu, rupanya bener,” ujar Rendi yang menerima gaji Rp 2,4 juta per bulan.
Rendi berharap, jika nanti sudah tidak jadi honorer, dapat membuka usaha bersama istrinya.
“Ya mungkin nanti buka usaha bareng istri, tapi sekarang istri baru melahirkan,” jelasnya.
Seorang honorer lain di Bagian Kesejahteraan Rakyat, Bama Putra mengaku belum menentukan langkahnya. Ia mengaku masih menunggu kepastian penghapusan honorer tersebut.
“Gawean di luar belum ada, masih nunggu kepastiannya aja sekarang,” ujar Bama yang menerima gaji Rp 2,4 juta per bulan.
Bama mengaku bingung mau mencari pekerjaan. Sebab, usianya saat ini sudah 37 tahun, sementara batas maksimal usia melamar kerja 35 tahun.
“Paling nanti buka usaha sembako di rumah bareng istri,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Heri Darmawan, honorer di Dinas Kominfo. Ia mengaku juga akan membuka usaha warung bersama sang istri.
Sementara itu, tenaga honorer di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel, Indra, mengaku masih belum menemukan usaha yang cocok jika nanti sudah tidak bekerja sebagai honorer.
Ia masih berharap keberuntungan dengan mencoba tes CPNS dan PPPK tiap tahun, meski selalu gagal.
“Tapi tahun ini saya udah enggak bisa ikut CPNS karena ada batas usia. Usai saya usah di atas 35, jadi saya mau ikut PPPK,” ujarnya yang menerima gaji Rp 2,4 juta per bulan. (*)
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agus Priwandono











