SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Perwakilan Kedutaan Besar Singapura, First Secretary (Political) Melvyn Foo mengunjungi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untirta untuk belajar politik lokal di Banten.
Kedatangan Melvyn Foo disambut langsung oleh Dekan FISIP Untirta Prof Ahmad Sihabudin di kampus Untirta, Sindang Sari, Selasa, 18 Juli 2023.
“Kami menerima dengan baik sebagai sahabat serumpun. Singapura merupakan negara sahabat bagi Indonesia. Dan diskusi politik ini, merupakan sebuah komunikasi yang bernilai bagi FISIP Untirta, tentang politik di Banten menjelang Pemilu 2024,” ujar Sihabudin.
Dalam diskusi mengenai politik lokal di Banten itu, Sihabudin mengatakan, semua elemen politik seyogyanya menghindari hal-hal yg dilarang, seperti money politic, ujaran kebencian atau black campaign dalam gelaran politik praktis.
“Tingkat partisipasi masyarakat, saat dalam gelaran agenda politik di Banten, sejatinya adalah kesadaran pada era demokrasi. Berdasarkan kedewasaan dan kematangan dalam politik, serta harus berlangsung secara bersih dari pelbagai aspek,” katanya.
Dosen Komunikasi Politik senior FISIP Untirta Ikhsan Ahmad menceritakan, berdasarkan sejarah, politik Banten dimulai salah satunya pemberontakan Petani Banten 1888. Hingga kini Banten banyak melahirkan intelektual di bidang politik sampai kancah nasional.
Selain itu, perkembangan zaman dan peta politik, disebut Ikhsan, semakin dinamis di Banten. Dominasi kelompok kiai di pondok pesantren, kelompok jawara juga dunia usahanya, dan partai politik hingga dinasti politik.
“Banyak persoalan, dengan adaptasi dengan perubahan jaman. Politik yang dibangun, di pesantren bersifat simbolik. Pemimpin pesantren bisa menjadi simbol pemenangan politik di tingkat lokal maupun nasional,” tuturnya.
Menurut Ikhsan, simbol lainnya adalah jawara, lebih banyak bertolak pada kekuatan (massa/pengaruh). Dulu sejarahnya, jawara adalah ulama. Polarisasi secara kultural, terletak pada simbol budaya tersebut, kiai dan jawara. Kini jawara lebih pada penguasaan ekonomi dan politik.
Ikhsan menambahkan bahwa gradasi dari politik kultural, berakumulasi menjadi politik dinasti pada kekuatan politik di Banten.
“Politik dinasti di Banten, menjadi keberlangsungan agenda politik dengan melakukan berbagai upaya, dengan pembentukan organisasi, seperti perguruan pencak silat atau relawan,” ucapnya.
Dalam pandangannya, Ikhsan menilai perbedaan partai politik secara ideologis maupun budaya tidak nampak. Sebuah ilustrasi dalam koalisi besar dalam gelaran pilkada, misalnya, sehingga terjadi koalisi besar, yang dikuasai oleh kelompok dinasti.
Peserta diskusi Dr Yoki Yusanto mengatakan, peran opinion leader dalam pemenangan politik di Banten sangat kuat.
“Banten memiliki keunikan dalam hal politik praktis, karena masih tergantung pada ketokohan masyarakat, seperti di Banten Selatan, peran ketua adat sangat penting dalam politik. Di mana ketua adat di komunitas adat, menjadi penentu arah pilihan politik, karena masyarakat di komunitas adat patuh pada ketua adat,” tuturnya.
Yoki mengatakan, hal tersebut tidak terjadi di Tangerang Raya yang berdekatan dengan ibukota negara Jakarta. Sedangkan di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang masih kokoh peran opinion leader dari setiap komunitas sosial maupun budaya dalam politik praktis.
Sedangkan Melvyn Foo mengatakan, pada Pilpres 2024, yang akan datang menyampaikan prediksi tentang pemilu presiden di Banten. Banten dan Jawa Barat menjadi salah satu fokus analisisnya, sebagai diplomat bidang politik Kedubes Singapura di Indonesia.
Melvyn mengungkapkan, pemerintah Singapura dan juga masyarakatnya mendukung siapapun yang nanti akan terpilih sebagai Presiden Indonesia 2024 mendatang.
“Sebagai perwakilan Kedubes, saya menyampaikan bahwa Singapura terlalu Kecil sampai ikut campur pada pemilu di Indonesia. Jadi kami hanya monitor, dan siapa pun presiden yang terpilih 2024, kami siap bekerja sama. Bakal calon presiden Indonesia 2024, seperti Anies Baswedan, Prabowo Subianto sudah berkunjung ke Singapura dan sudah mengundang juga untuk Pak Ganjar Pranowo untuk ke Singapura,” tutupnya.
Reporter: Nahrul Muhilmi
Editor: Aas Arbi










