TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Pemilik lahan yang memagar separuh gerbang masuk SDN Lengkong Karya, Hardi Widjaja, menegaskan, penyelesaian ganti rugi lahannya sudah berlangsung selama 8 tahun, tepatnya sejak tahun 2015. 1 meter lahannya diambil SDN Lengkong Karya, sampai kini belum diganti rugi.
Hardi mengaku selama ini hanya di-PHP atau diberi harapan palsu oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangsel karena penyelesaian ganti rugi lahannya tak kunjung diselesaikan. Tak kunjung mendapat kejelasan, ia kemudian membuat aksi pemagaran gerbang masuk sekolah.
“Saya dari 2015 digantung (penyelesaian ganti rugi lahan-red) sudah 8 tahun, saya sabar menanti karena saya sibuk sama pekerjaan saya. Sekarang saya perlu uang mau mengobati istri saya, segala macam,” ujar Hardi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Rabu 19 Juli 2023.
Menurut Hardi, sejak tahun 2015 hingga sekarang, ia menunggu dengan sabar akan proses penyelesaian ganti rugi lahannya. Namun, pihak Dindik Tangsel tidak bergeming sama sekali.
“Seharusnya di 2015 sudah harus bayar, masak mereka gantung saya begitu saja, saya sudah sangat sabar loh,” jelasnya.
Hardi menegaskan dirinya hanya menginginkan ganti rugi dari Dindik Tangsel. Menurutnya, ia masih mau menyelesaikan ganti rugi lahannya dengan cara baik-baik.
“Saya ikut saja harganya, sudah bikin perjanjiannya saya teken, kalau memang harus menunggu sampai Oktober menunggu APBD Perubahan, ya saya tunggu, apa boleh buat,” tegasnya.
Hardi meluruskan, bahwa pemagaran gerbang masuk sekolah yang ia lakukan tidak menutup habis akses masuk siswa ke sekolah. Ia tetap memberi akses masuk siswa dan keluar masuk sepeda motor. Ia menegaskan tidak ada penembokan akses masuk sekolah yang dilakukannya.
“Saya pagar untuk tanah saya, tapi saya masih memberi akses siswa keluar masuk, sampai mereka (Dinas Pendidikan Tangsel) selesaikan (ganti rugi-red). Kata-kata tembok itu kasar, saya kasih beton yang mudah dibongkar pasang dan saya berikan jalan tetap bisa masuk,” ujarnya.
Menurut Hardi, atas rasa kemanusian, sebetulnya ia telah menyumbangkan satu meter tanahnya untuk jalan SDN Lengkong Karya, namun dalam praktiknya, tanahnya justru diambil dua meter untuk jalan.
“Saya kasih satu meter, tapi secara lancang tanah saya diambil dua meter. Dua meter dari depan kebelakang sekolah kan lumayan. Nah, itu saya minta diselesaikan kelebihannya diambil saja supaya jalanannya bisa masuk mobil. Kalau tidak dibayar, jalanan anda jadi sempit hanya masuk motor, tapi kalau anda bayar, jalan anda bisa keluar masuk mobil,” ujar Hardi.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Aas Arbi











