RADARBANTEN.CO.ID – Fenomena El Nino menjadi pemberitaan media massa, beberapa hari terakhir. El Nino dikaitkan dengan ketersediaan pangan. Mengapa?
Untuk mengetahuinya, tidak ada salahnya kita sedikit melihat sejarah dan istilah iklim ini.
El Nino merupakan bahasa Spanyol. Artinya adalah anak kecil.
Dikutip RADARBANTEN.CO.ID dari oceanservice.noaa.gov, kali pertama fenomena iklim ini ditemukan pada tahun 1600-an. Adalah oleh nelayan Amerika Selatan ketika berlayar. Mereka merasakan air hangat di Samudera Pasifik yang tidak biasa.
Nelayan Amerika Selatan menyebut fenomena itu dengan nama El Nino de Navidad. Itu karena puncak El Nino biasa terjadi pada Desember.
El Nino dan La Nina adalah dua pola iklim yang berlawanan dan merusak kondisi normal. Oleh ilmuwan, fenomena ini disebut siklus El Nino Southern Oscillation.
Meskipun pola iklimnya berlawanan, El Nino maupun La Nina dapat membuat cuaca terdampak secara global. Seperti, kebakaran hutan, ekosistem, dan ekonomi.
El Nino maupun La Nina memiliki periode yang sama. Biasanya berlangsung selama sembilan bulan sampai 12 bulan. Bahkan, bisa bertahun-tahun.
Fenomena El Nino maupun La Nina, rata-rata terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dalam jadwal yang tidak teratur.
Selama El Niño, angin pasat melemah. Air hangat didorong kembali ke Timur, menuju pantai Barat Amerika.
Itu sebabnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal di Samudera Pasifik bagian tengah itu meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah, dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.
El Nino memicu kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.
Itu sebabnya, El Nino dikaitkan dengan ketahanan pangan suatu daerah seperti Indonesia.
Tahun ini, BMKG menyebutkan bahwa fenomena El Nino sudah mulai membawa dampak bagi 63 persen wilayah Indonesia. (*)
Reporter/Editor: Agus Priwandono











