SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof. drh. M. Rizal M Damanik mengapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten yang telah berhasil menurunkan angka stunting di Banten.
Rizal mengatakan, berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) angka stunting pada tahun 2021 mencapai 24,4 %. Angka itu pun turun sebanyak 4,4% , yang mana pada tahun 2022 angka stunting di Banten hanya sebesar 20% saja.
“Pada kesempatan bahagia ini kami memberikan apresiasi kepada Banten yang sudah menekan angka stunting hingga berada diangka 20%. Angka itu dibawah rata-rata nasional. Pada tahun 2022 yaitu 21,6 %,” kata Rizal saat memberikan sambutan pada acara puncak Hari Anak Nasional dan Hari Keluarga tingkat Provinsi Banten di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Rabu 2 Agustus 2023.
Selain itu, Rizal juga mengapresiasi berbagai pencapaian dan penghargaan yang diraih oleh Banten, seperti juara nasional kampung berkualitas dan pelayanan Keluarga Bencana (KB) dan sejuta Akseptor yang telah mencapai 134 %.
Katanya, kedua hal itu tentunya merupakan suatu bentuk langkah nyata dalam menekan angka stunting. Stunting sendiri merupakan suatu kondisi pada anak yang mengalami gagal tumbuh yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan anak, hal itu disebabkan oleh berbagi hal mulai dari kekurangan asupan gizi, pola asuh, hingga lingkungan sang anak.
“Ada satu studi yang baru dilakukan dan melaporkan bahwa ada 98 % masyarakat yang memahami stunting, namun 50 % masyarakat tidak percaya bahwa stunting menghambat perkembangan otak anak yang mengancam produktifitas anak. Dan 35 % percaya bahwa stunting merupakan penyakit yang serius,” kata M Rizal.
Padahal, katanya, stunting dapat sangat berbahaya karena dapat menyebabkan terhambatnya perekonomian, hingga meningkatnya kemiskinan ekstrem . Hal itu tentunya dapat menganggu kondisi perekonomian.
Untuk itu, kata Rizal, dibutuhkan sinergi bersama semua pihak untuk menyamakan presepsi dalam upaya penekanan stunting di Indonesia, khususnya di Banten. BKKBN sendiri memiliki program pemutahiran data keluarga atau PK-23 yang menyasar 15 juta data keluarga di 84 ribu Desa se Indonesia. Yang mana, data itu nantinya akan menjadi rujukan dan dasar pengambilan keputusan dalam penanganan stunting.
“Saat ini kita, dan Banten memiliki suatu tantangan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang stunting, bagaimana bahayanya, bagaimana penyebabnya dan bagaimana cara pencegahannya. Tentu ini membutuhkan komitmen bersama dengan semua pihak, ” ucapnya.
Pada momentum Hari Anak dan Keluarga Nasional ini, dia juga mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan peranan keluarga khususnya dalam mengawasi pertumbuhanan anak.
“Hari keluarga ini mari dimaknai untuk bersama berupaya meningkatkan hubungan keluarga. Hubungan keluarga menjadi guyub, akrab antara anggota keluarga akan menjadi pondasi yang penting, ” imbuhnya.
Plh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Dra. Ubang Sobari mengatakan, stunting di Banten saat ini sudah diangka 20 persen, angka itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 24 persen. Ia pun optimisi target stunting nasional di tahun 2024 yakni 14 persen dapat tercapai.
“Kami optimis karena dengan TNI dan seluruh stakeholder lainnya kita bahu membahu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. InsyaAllah sesuai amanat dari pa Presiden, Banten akan siap menekan angka stunting dibawah 14 persen, ” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor : Merwanda











