SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Serang mendata ada sekitar 1.079 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan di Kabupaten Serang. Bahkan 5 Hektare lahan pertanian mengalami puso.
Kondisi tersebut terjadi karena El Nino dan dampak kemarau berkepanjangan yang terjadi di Wilayah Kabupaten Serang. Sehingga kondisi tersebut membuat sawah-sawah yang ada di Kabupaten Serang mengering.
Sekretaris DPKP Kabupaten Serang Yuli Saputra mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang ada di Kabupaten Serang. Dari 49 ribu hektare lahan sawah yang ada di Kabupaten Serang, sebanyak 1.079 Hektare lahan mengalami kekeringan.
“Kalau total 1.079 hektare lahan kekeringan yang terdiri dari 839 hektare lahan kategori ringan, sedang 224 hektare, berat 11 hektare dan yang sudah tidak tertolong dalam artian puso itu lima hektare,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa 29 Agustus 2023.
Ia mengatakan, untuk lima hektare lahan sawah yang mengalami puso sendiri berada di Kecamatan Padarincang dan terbagi di tiga desa yakni Desa Curuggoong dua hektare, Batukuwung tiga hektare dan kalumpang satu hektare.
Menurutnya, di Kecamatan Padarincang tidak semua daerah memiliki kondisi pengairan yang bagus. Ada beberapa desa juga yang mengalami kesulitan air khusunya untuk pengairan sawah.
“Untuk yang lima hektare puso kita upayakan pergantian benih. Kita berkoordinasi dengan dinas pertanian Provinsi Banten untuk mendpaatkan pergantian benih,” jelasnya.
Sementara untuk lahan-lahan yang mengalami kekeringan baik ringan, sedang dan berat pihaknya beruapaya untuk mengantisipasi dengan mengalirkan air dengan pompa-pompa agar mengantisipasi dampak puso supaya tidak semakin meluas.
“Artinya kami berupaya untuk mengutamakan lahan-lahan yang masih bisa diselamatkan, artinya di wilayah tersebut masih ada sumber airnya,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya pun saat ini tengah berusaha untuk mengajukan pengeboran untuk wilayah pertanian yang jauh dengan sumber air. “Kami mengajukan je kementrian untuk penggunaan sumber air tanah dangkal dan sumber air tanah dalam, jadi pengeboran di wilayah persawahan,” terangnya.
Untuk kerugian yang dialami oleh petani di Kabupaten Serang bervariasi lantaran usia tanam yang berbeda. Untuk yang masih baru dilakukan penanaman kerugiannya belum terlalu besar yakni 10 sampai 20 persen dari biaya produksi.
“Yang menjelang panen twehantam kekeringan itu biasanya mengalami kerugian diatas 50 persen dari biaya produksi. Nah di kabupaten Serang banyak petani yang sudah memiliki asuransi sehingga pada saat puso mendapatkan pergantian sebesar 6 juta rupiah per hektare,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











