PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kereta api, sebuah simbol transportasi masa lalu yang pernah menghiasi kehidupan masyarakat Indonesia, telah menorehkan sejarah sejak zaman penjajahan Belanda pada abad ke-19. Mesin uap beroda besar menjadi ciri khas pada era itu, menandai awal kehadiran kereta api di negeri ini, Kamis 27 Juni 2024.
Salah satu warisan bersejarah dari masa tersebut adalah menengok stasiun kereta api yang kini terbengkalai dan hanya menyisakan jalur rel
kereta di Kelurahan Kadomas, Kecamatan Pandeglang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dalam catatan Wilayah Aset I Jakarta, jalur perlintasan kereta api ini berada di lintas Labuan–Rangkasbitung. Pada masa keemasannya, stasiun ini menjadi pusat ramai dengan jumlah penumpang mencapai antara 21.891 hingga 61.197 orang, serta mengangkut barang sebanyak 225 hingga 1.004 ton per tahun pada periode 1950-1953.
Stasiun Pandeglang sendiri didirikan pada tahun 1906 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda Staatsspoorwegen. Namun, sayangnya, pada tahun 1982 stasiun ini resmi ditutup bersama dengan penghentian lintas Rangkasbitung-Labuan. Alasannya kemungkinan karena kendala bersaing dengan moda transportasi lain serta kondisi sarana-prasarana yang sudah uzur pada saat itu.
Dari pantauan Radar Banten di lokasi, kini bangunan stasiun telah dirobohkan dan hanya tersisa puing-puingnya saja, akan tetapi jalur rel-rel serta beberapa kelengkapan stasiun masih dapat dilihat tersebar di antara permukiman penduduk.
Sebagaimana diketahui, ada wacana kabarnya Kementerian Perhubungan melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta rel memastikan jalur kereta api Rangkasbitung-Pandeglang-Labuan akan direaktivasi pelaksanaan reaktivasi rel kereta api jalur tersebut di awal tahun 2025.
Hal itu dapat dipastikan setelah Kementerian Perhubungan melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta mengalokasikan anggaran untuk pembiayaan reaktivasi jalur rel Kereta Api Rangkasbitung-Pandeglang-Labuan kepada Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI.
Sementara itu salah satu warga Muksin menceritakan bahwa jalur perlintasan kereta api ini merupakan sejarah pada masa kejayaan kereta api jalur Rangkasbitung-Pandeglang-Labuan dulu, yang kini hanya menyisakan rel dan kelengkapan stasiun.
“Ya ini salah satu sejarah pada jaman dulu ketika masih aktif, sekarang cuma jalur rel saja,” ucapnya.
Menanggapi reaktivasi jalur kereta api tersebut ia mengatakan bahwa ia menyambut baik dengan kabar itu, kalaupun memang jadi hal itu tentu bisa mengangkat akses perekonomian masyarakat ditambah juga mempermudah sarana transportasi bagi masyarakat.
“Kalau dengar kabar akan diaktifkan lagi yah saya sebagai warga senang saja karena bisa menumbuhkan perekonomian, ditambah kala aktif lagi jadi enak mudah buat masyarakat kalau ada kereta api ke Pandeglang,” pungkasnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











