LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID-Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Seretak 2024 di Kabupaten Lebak, puluhan Generasi Zilenial (Gen Z) di Lebak akan berkumpul untuk menggelar diskusi 60 Menit Bersama Gen-Z dengan mengangkat tema “Referensi Politik Gen-Z di Pilkada Lebak”, pada Seala 16 Juli 2024.
Ridwanul Maknunah, Ketua Forum Diskusi Poros Politik Zilenal (Porpoliz), mengatakan Pilkada Kabupaten Lebak 2024 merupakan tonggak penting dalam perkembangan politik lokal, yang secara khusus menarik perhatian Generasi Zilenial atau Gen-Z.
“Sebagai generasi yang tumbuh di era digital yang penuh dengan akses informasi, Gen-Z tidak hanya menjadi penonton dalam proses politik, tetapi juga aktor yang aktif dalam menentukan arah dan hasil dari pilkada tersebut,” kata Ridwan kepada RADARBANTEN.CO.ID, Senin 15 Juni 2024.
Menurutnya, Kabupaten Lebak, dengan segala potensinya dalam bidang agraris, ekonomi lokal, dan infrastruktur, menawarkan panggung yang signifikan bagi Gen-Z untuk mengartikan dan mengkritisi peran serta calon kepala daerah.
“Mereka tidak hanya memperhatikan agenda-agenda kampanye, tetapi juga menggali lebih dalam untuk menilai kualitas kepemimpinan yang diusung, komitmen terhadap isu-isu krusial seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam acara “60 Menit Bareng Gen-Z” menjadikan Pilkada sebagai fokus utama diskusi. Generasi Z, yang tumbuh dalam era di mana informasi berlimpah dan teknologi mendominasi, memiliki peran yang semakin signifikan dalam proses demokrasi, termasuk dalam pemilihan kepala daerah.
“Tak hanya itu kita akan menggali lebih dalam bagaimana Gen-Z menafsirkan dan menanggapi pilkada. Mereka tidak sekadar mengamati proses politik dari pinggir, tetapi juga secara aktif mengeksplorasi isu-isu krusial seperti transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, dan dampak kebijakan terhadap kehidupan sehari-hari mereka,” tandasnya.
Sementara itu, Aswari Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA), menyebutkan Pilkada tidak hanya merupakan acara politik rutin, tetapi juga refleksi dari bagaimana generasi ini berpartisipasi aktif dalam menggali, menilai, dan memilih calon pemimpin mereka.
“Dengan pendekatan kritis dan analitis, Gen-Z membawa perspektif yang segar terhadap isu-isu seperti transparansi, akuntabilitas, dan kebijakan publik yang diusung oleh calon dalam kompetisi pilkada Melalui pendekatan ini, kita tidak hanya akan memahami bagaimana Gen-Z memengaruhi dinamika politik saat ini, tetapi juga bagaimana mereka mungkin membentuk masa depan demokrasi,” ujarnya.
Disampaikan Aswari, dengan mempertimbangkan keragaman pandangan dan sumber informasi yang mereka akses, diskusi ini menjadi kesempatan untuk merenungkan cara baru berpartisipasi dalam politik yang telah diperkenalkan oleh generasi ini.
“Tak hanya itu kita akan menggali lebih dalam bagaimana Gen-Z menafsirkan dan menanggapi pilkada. Mereka tidak sekadar mengamati proses politik dari pinggir, tetapi juga secara aktif mengeksplorasi isu-isu krusial seperti transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, dan dampak kebijakan terhadap kehidupan sehari-hari mereka,” pungkasnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











