PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Seorang pria di Kampung Cikole, Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, berhasil mengembangkan usaha budi daya kelinci hias.
Dengan memanfaatkan lahan di samping rumahnya, pria tersebut telah menjalankan usaha ini selama kurang lebih lima tahun.
Usaha yang ia beri nama “Raja Kelinci” kini menjadi sumber penghasilan utamanya, membuktikan bahwa usaha ternak kelinci hias dapat mendatangkan keuntungan jika dikelola dengan baik.
Muhamad Subhan, seorang peternak kelinci hias asal Pandeglang, mengaku awalnya hanya iseng menjalani hobi. Namun, akhirnya hobi tersebut berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan.
“Awalnya hanya iseng, tapi ternyata jenis kelinci itu banyak. Di dunia ada sekitar 28 jenis kelinci,” ungkap Subhan, Jumat, 4 Oktober 2024.
Subhan menjelaskan bahwa dalam menjalankan usahanya, ia telah membudidayakan sekitar 16 jenis kelinci hias untuk dikembangkan.
“Di Raja Kelinci, kami punya 16 jenis kelinci campuran, mulai dari jenis Anggora, Netherland Dwarf, Mini Rex, dan lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, perawatan kelinci hias tidak begitu rumit, asalkan dilakukan secara konsisten. Ia menambahkan, pemberian pakan dilakukan dua kali sehari.
“Merawat kelinci tidak sulit, yang penting kesehatannya terjaga. Pakan diberikan dua kali sehari, biasanya berupa pelet, kadang-kadang ditambah sayuran hijau seperti kangkung serta obat-obatan yang diperlukan,” jelas Subhan.
Menurutnya, kendala utama dalam memelihara kelinci hias adalah risiko terkena penyakit scabies, yang dapat menyerang kesehatan kelinci.
Dari usaha yang telah ia tekuni, Subhan mampu meraih omzet hingga Rp 15 juta lebih per bulan.
“Omzet bisa mencapai di atas Rp 15 juta setiap bulannya,” ujarnya.
Subhan menjelaskan bahwa harga jual kelinci hias bervariasi, tergantung usia dan jenisnya.
Untuk kelinci usia berusia satu setengah bulan, harga dipatok mulai Rp 150 ribu per ekor.
Sementara, kelinci dewasa dijual dengan harga antara Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu.
“Alhamdulillah, karena kandang berada di pinggir jalan raya, banyak pembeli datang dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, hingga Cilegon. Kalau di Banten, insya Allah sudah banyak yang tahu,” Jelasnya.
Subhan mengaku dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat ia memanfaatkan jejaring media sosial untuk meningkatkan penjualan seperti melalui platform online, kelinci-kelincinya telah dipasarkan hingga ke berbagai daerah di luar Jawa, termasuk Jakarta, Bandung, Tangerang, Bekasi, dan beberapa wilayah lainnya.
“Kami memasarkan secara online, sering posting di platform seperti TikTok dan Snack Video. Penjualan juga dilakukan secara daring,” paparnya.
Ia berharap, usahanya terus berkembang, serta minat masyarakat Indonesia, khususnya di Pandeglang dan wilayah Banten, terhadap kelinci hias semakin meningkat.
Editor: Agus Priwandono











