SERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Masyarakat di Desa Tegalmaja, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, memanfaatkan limbah industri dari pabrik kertas untuk dijadikan kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomis.
Pemerintah Desa Tegalmaja, bahkan memberdayakan ibu rumah tangga di lingkungannya untuk membuat berbagai kerajinan tangan, yakni tas rajut, dompet kecil hingga tempat untuk tumbler yang dibuat dengan cara dianyam.
Pemasarannya kini sudah tembus ke Malaysia dan India.
Kepala Desa Tegalmaja, Muhammad Ikhsan, mengatakan, pihaknya telah membentuk kelompok perajin yang menganyam anyaman bambu Tegalmaja di bawah binaan BUMDes.
Ikhsan mengaku bersyukur karena pesanan untuk produk-produk anyaman bambu dari Desa Tegal maja setiap harinya selalu bertambah.
Bahkan, sudah sering mengikuti berbagai pameran seperti yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Jakarta Convention Center.
“Pesanan terus meningkat. Kemarin kita ikut pameran di JCC semuanya habis, bahkan untuk tas kerajinan yang bahan bakunya tali kertas itu peminatnya banyak dari Cina, Jepang, dan orang-orang dari luar negeri,” katanya, Minggu, 6 April 2025.
Ikhsan mengaku, pihaknya mulai memanfaatkan limbah dari perusahaan kertas berupa tali dan menjadikan bahan tersebut menjadi tas, dompet, hingga tempat untuk tumbler.
“Jadi banyak dibuat tas etnik, tas modern, macem-macem. Ada dompet juga,” ujarnya.
Ikhsan mengungkapkan, awalnya ia terinspirsai saat melihat limbah-limbah yang dibuang oleh PT Indah Kiat Pulp and Papper yang mirip seperti rotan, namun berbentuk pipih.
Saat itu, ia terpikir untuk memanfaatkannya dan dibuat menjadi kerajinan.
“Dari segi kekuatan, sangat kuat. Saat itu kita coba serut, kita buat benang. Lalu saat kita anyam ternyata hasilnya bagus. Nah, ide anyaman itu berasal dari Yogya, ketika kita study banding melihat tas rotan,” ujarnya.
Ia mengatakan, awalnya hanya ada sebanyak 20 ibu-ibu yang menjadi perajin di Desa Tegalnaja. Namun, seiring waktu berjalan, kini sudah ada sebanyak 70 orang perajin yang berada di bawah naungan desa.
“Jadi untuk pembuatannya di rumah masing-masing. Kita kirim barangnya ke rumah mereka, dibagi rata sesuai jumlah bahan baku yang datang,” jelasnya.
Setiap keraijinan memiliki harga yang berbeda-beda tergantung jenis, ukuran, dan tingkat kerumitan saat pembuatan.
Yang termurah, dijual dengan harga Rp 50 ribu, sementara yang paling mahal dijual dengan harga Rp 500 ribu.
“Biasanya satu produk itu untuk yang rumit bisa memakan waktu hingga satu hari pembuatannya. Sementara untuk yang biasa yang harganya Rp 50 ribu, kayak untuk tumbler, satu hari per orang bisa bikin lima, jadi sesuai kerumitan,” ujarnya.
Ikhsan mengatakan, saat ini untuk omzet dari penjualan kerajinan sudah mencapai Rp 30 juta sampai Rp40 juta per bulannya.
“Jadi sistemnya semua produk yang dihasilkan oleh perajin langsung kita beli. Bahkan untuk penyemangat, kadang kita kasih dulu uangnya,” ujarnya.
Selain dipasarkan di dalam negeri, produk-produk buatan perajin Tegalmaja ini kini sudah tembus ke pasar mancanegera seperti Malaysia dan India.
Editor: Agus Priwandono











